Kronologi Insiden Pendakian Ilegal Merapi, 2 Orang Masih Dicari

2026-01-31 03:26:52
Kronologi Insiden Pendakian Ilegal Merapi, 2 Orang Masih Dicari
— Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) melalui postingan Instagram menyampaikan informasi terkait terjadinya pendakian ilegal di kawasan Gunung Merapi yang berujung pada insiden dan proses pencarian pendaki.Kejadian ini berlangsung pada akhir pekan lalu dan hingga kini masih menyisakan kekhawatiran.Pendakian ilegal tersebut terjadi pada Sabtu, 20 Desember 2025, ketika tiga orang melakukan pendakian tanpa izin melalui jalur Kalitalang, Kabupaten Klaten.Baca juga: 2 Pendaki Asal Yogyakarta Hilang di Gunung Merapi, Pencarian DilakukanSetelah berhasil mencapai Pasar Bubrah, para pendaki memutuskan turun melalui jalur Sapuangin.Insiden pendakian ilegal itu terjadi pada perjalanan turun mereka via jalur Sapuangin:Pihak pengelola kawasan kembali menegaskan pentingnya mematuhi aturan dan larangan pendakian Gunung Merapi, mengingat status aktivitas gunung dan potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan./ANGGARA WIKAN PRASETYA Puncak Argo Belah di Wisata Deles Indah, Klaten.Sebagai info, pendakian Gunung Merapi sudah ditutup total sejak Bulan Mei 2018 karena peningkatan aktivitas.Jalur pendakian gunung api aktif itu bahkan masih ditutup setelah tujuh tahun, tepatnya hingga sekarang.Baca juga: Pencarian 2 Pendaki Asal Yogyakarta Hilang di Gunung Merapi Dipusatkan di SapuanginJika ingin merasakan sensasi pendakian Gunung Merapi, wisatawan bisa melakukan hiking di tempat wisata, seperti Deles Indah dan Kali Talang.Meski begitu, jalur hiking itu tidak sampai ke Puncak Gunung Merapi. Ada batasan tertentu bagi wisatawan dan mereka harus mengikuti jalur yang sudah ditentukan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-31 02:41