Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta

2026-01-13 11:32:51
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
- Greenpeace Indonesia menyoroti krisis iklim dan lingkungan di tengah minimnya ruang aman bagi masyarakat di Jakarta.Dalam riset terbaru bersama The Smeru Research Institute, Greenpeace mendalami kondisi masyarakat di Bantargebang, Marunda, dan Pulau Pari yang menjadi cerminan kontras megacity atau kota yang terus membesar sedangkan ruang aman bagi sebagian warganya makin mengecil.Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menyebutkan bahwa ketiga wilayah tersebut menghadapi masalah yang hampir sama yakni dominasi kepentingan ekonomi besar atas ruang hidup warga, serta lemahnya tata kelola dan layanan dasar dari Pemerintah Provinsi Jakarta. “Masalah-masalah ini pun diperparah dengan krisis iklim dan lingkungan yang memperburuk kerentanan sosial dan ekonomi warga di ketiga wilayah ini," kata Jeanny dalam keterangannya, Senin .Baca juga: Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA UnikIa menjelaskan, di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, krisis iklim memicu abrasi dan menggerus tujuh hingga 10 meter garis pantai. Sementara, warga Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, harus menanggung dampak pencemaran udara karena aktivitas batu bara di sekitarnya.Lalu volume sampah dari Jakarta yang terus meningkat memperburuk kondisi lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitar TPST Bantargebang.“Krisis iklim dan lingkungan yang terjadi di ketiga wilayah ini pun semakin memperburuk kondisi sosial dan ekonomi warga yang jadi kelompok rentan akibat kemiskinan struktural, serta minimnya partisipasi warga dalam kebijakan iklim dan perkotaan dari Pemprov Jakarta,” tutur Jeanny.Di sisi lain, masyarakat berupaya beradaptasi dengan permasalahan lingkungannya melalui solusi berbasis komunitas. Warga Pulau Pari, misalnya, menginisiasi penanaman mangrove sebagai upaya mengatasi abrasi, banjir rob, serta pemulihan habitat ikan dan ekosistem laut.Para nelayan juga beradaptasi dengan perikanan tangkap dan budidaya untuk mengatasi turunnya jumlah tangkapan di tengah perubahan iklim.Baca juga: Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap ParahSedangkan warga Bantargebang berupaya mengembangkan budi daya maggot untuk mengolah sampah organik, serta mengelola tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). "Bagi warga Rusunawa Marunda yang mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan, inisiasi program pengelolaan greenhouse untuk memenuhi kebutuhan pangan serta pemberdayaan ekonomi perempuan membantu memperkuat ketahanan ekonomi warga di tengah keterbatasan lapangan kerja dan kemiskinan struktural yang terjadi di Marunda," jelas dia.Peneliti Smeru Annabel, Noor Asyah, menyampaikan penelitiannya menggarisbawahi urgensi perubahan struktural pemprov guna mendorong adaptasi iklim, sosial, dan ekonomi di ketiga wilayah. Menurut dia, Pemprov Jakarta harus meningkatkan kualitas tata kelola yang partisipatif dan transparan terutama dalam kebijakan iklim,."Untuk mengakomodasi kebutuhan dan karakteristik spesifik kelompok marjinal dan rentan seperti di Pulau Pari, Marunda, dan Bantargebang. Pemprov juga harus kembali menggiatkan musyawarah perencanaan pembangunan, memperbanyak dialog dengan warga, serta memperbanyak kajian krisis iklim," ucap Abel.Di samping itu, Pemprov Jakarta perlu melakukan perlindungan sosial adaptif, penguatan layanan dasar yang memadai, dan transformasi kebijakan. Pihaknya turut mendesak DPR mengesahkan Revisi Undang-Undang Keadilan Iklim.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Lebih lanjut, Purwadi menyampaikan arahan terkait reformasi birokrasi dari Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan birokrasi harus semakin responsif dan tidak mempersulit masyarakat.Birokrasi juga diminta memiliki komitmen yang kuat terhadap efektivitas alokasi anggaran dan pemberantasan korupsi serta kebocoran anggaran.“Sebab, tanpa integritas, tidak mungkin kita membangun birokrasi yang dipercaya publik,” ungkapnya. Baca juga: Menteri PANRB Rini Raih Penghargaan Adibhakti Sanapati 2025 dari BSSNPerlu diketahui, mulai 2023, Kementerian PANRB mendorong pelaksanaan evaluasi Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) Mandiri di sejumlah kementerian/lembaga.Sampai saat ini, penilaian tersebut diperluas pada 19 kementerian/lembaga (K/L) dan lima pemerintah provinsi termasuk Mahkamah Agung (MA).Purwadi juga memberikan apresiasi kepada MA yang telah menunjukkan upaya memperkuat integritas ke tahap yang lebih matang. “Capaian ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen dan keteladanan dalam menjaga integritas serta meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat,” katanya.Dia menyampaikan, untuk menjaga keberlanjutan reformasi birokrasi, diperlukan upaya untuk memastikan langkah-langkah ke depan berjalan dengan konsisten, menyeluruh, dan semakin berdampak.Baca juga: Menteri PANRB Dukung Badan Narkotika Nasional Akselerasi Program P4GNPertama, pembangunan zona integritas harus terus diperluas. Kedua, pemanfaatan digitalisasi proses peradilan perlu ditingkatkan. Ketiga, memperkuat mekanisme pengawasan dan pencegahan korupsi. Keempat, kualitas sumber daya manusia (SDM) peradilan harus terus ditingkatkan secara berkelanjutan serta perlu kolaborasi yang berkelanjutan.Prestasi tersebut bukan hanya untuk keberhasilan administratif, tetapi wujud inspirasi bagi satuan kerja lain untuk terus melakukan perbaikan dan memperkuat budaya kerja yang berkualitas.“Saya berharap, upaya ini menjadi pemicu bagi lahirnya lebih banyak perubahan konkret yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya. Baca juga: Target Penempatan 500.000 PMI pada 2026, Menteri PANRB Siap Dukung Penguatan Kelembagaan Kementerian P2MI

| 2026-01-13 10:18