Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dirilis, Setebal 7.958 Halaman

2026-01-12 04:32:46
Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dirilis, Setebal 7.958 Halaman
- Buku penulisan ulang sejarah Indonesia dengan judul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dirilis secara terbatas (soft launching) pada Minggu .Perilisan ini dilaksanakan sekaligus dengan penetapan Hari Sejarah Nasional. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan ia belum membaca satu halaman pun isi buku ini."Kita memfasilitasi para sejarawan untuk menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita," ucap Fadli Zon dalam acara yang digelar di Gedung Kemenkebud, Jakarta Pusat, Minggu .Baca juga: Sejarah, Lirik Terbaru hingga Pencipta Lagu Hymne GuruBuku baru sejarah Indonesia ini terdiri dari 10 jilid utama, ditambah satu jilid faktaneka dan daftar pustaka.Salah satu dari tiga editor umum yang dipercaya menangani proyek ini, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. bersyukur proses pengerjaan buku ini selesai setelah berjalan kurang lebih satu tahun.Singgih mengatakan salah satu tema utama di dalam penulisan ini adalah reinventing Indonesian identity."Hasilnya di luar dugaan, yang rencananya itu hanya 5.000 halaman, ini melonjak menjadi 7.958 halaman. Ini begitu semangatnya ya," ucap Singgih.Penulisan ulang sejarah Indonesia melibatkan 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan juga lembaga non-perguruan tinggi di Tanah Air.Baca juga: Penulisan Ulang Buku Sejarah Indonesia: Dari Pro-Kontra hingga Rencana Rilis 2025canva.com Ilustrasi sejarah Indonesia.Singgih menambahkan, dalam 10 jilid ini para penulis menarasikan perjalanan panjang dari proses menjadi Indonesia, yang dimulai dari periode akar kebudayaan Nusantara di mana terjadi komunikasi dan interelasi di antara berbagai macam suku bangsa Indonesia."Kemudian juga berinteraksi dengan dunia global, yang kemudian karena kegiatan pelayaran, perdagangan, akhirnya kita terlibat secara aktif di dalam perdagangan dan pelayaran internasional dengan India, China, Persia," ujar Singgih."Kemudian juga disusul dengan jejaring pelayaran dan perdagangan maritim dengan Timur Tengah sehingga menghasilkan kebudayaan Indonesia, kebudayaan Nusantara yang sangat khas ya, yang berbeda dengan kawasan lain," imbuhnya.Baca juga: Sejarah Baru, Pertama Kalinya Kongres Nasional Bahasa Indonesia 2025 Digelar di AustraliaSebagai informasi, penulisan ulang sejarah Indonesia ini sempat mendapat pertentangan dari sebagian masyarakat.Namun Fadli Zon menekankan bahwa buku sejarah Indonesia terakhir kali ditulis 26 tahun lalu sehingga perlu ada pembaruan.


(prf/ega)