Laba Bersih Mitratel (MTEL) Rp 1,54 T hingga Kuartal III 2025, Ditopang Bisnis Menara dan Fiber

2026-02-02 02:33:12
Laba Bersih Mitratel (MTEL) Rp 1,54 T hingga Kuartal III 2025, Ditopang Bisnis Menara dan Fiber
JAKARTA, – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel melaporkan laba bersih sebesar Rp 1,54 triliun hingga kuartal III 2025.Laba bersih MTEL ditopang efisiensi operasional serta optimalisasi portofolio bisnis menara dan fiber.Pendapatan Mitratel tercatat sebesar Rp 6,88 triliun, atau tumbuh 0,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) setelah dinormalisasi.Baca juga: Sambut Era 5G, Mitratel (MTEL) Fokus Perluas Infrastruktur dan Energi Terbarukan/APRILLIA IKA Site menara telekomunikasi atau BTS Mitratel di Bukit Tengah, Klungkung, Bali yang gunakan power hybrid dengan penambahan solar panel. Dari sisi profitabilitas, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 1,8 persen (YoY) menjadi Rp 5,77 triliun, dengan margin EBITDA mencapai 83,8 persen.Biaya operasional (cost of expense/COE) juga berhasil ditekan 3,4 persen YoY menjadi Rp 1,11 triliun.Upaya efisiensi ini turut memperkuat margin laba bersih (net income margin/NIM) yang mencapai 22,4 persen.Normalisasi pendapatan dilakukan karena akuisisi UMT pada Desember 2024 yang secara akuntansi dibukukan sejak awal Januari 2024.Baca juga: RUPLSB Mitratel (MTEL) Setujui Buyback Saham Rp 1 Triliun dan Angkat Komisaris BaruDirektur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengatakan capaian tersebut mencerminkan ketahanan dan adaptabilitas perusahaan di tengah dinamika industri telekomunikasi.“Pencapaian ini menunjukkan komitmen Mitratel untuk terus tumbuh secara berkelanjutan melalui efisiensi operasional, ekspansi infrastruktur digital, dan peningkatan nilai tambah bagi pelanggan. Kami berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan pendapatan serta memperkuat profitabilitas dan daya saing di seluruh lini bisnis,” ujar Theodorus dalam keterangan tertulis, Rabu .Kontribusi terbesar pendapatan Mitratel masih berasal dari bisnis menara kepemilikan sendiri (tower owned) yang menyumbang 82,7 persen dari total pendapatan atau sekitar Rp 5,69 triliun, naik 0,4 persen (YoY).


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 02:48