5 Ciri-Ciri Ideologi Terbuka dan Contohnya

2026-01-17 04:35:56
5 Ciri-Ciri Ideologi Terbuka dan Contohnya
— Pancasila sebagai ideologi terbuka merupakan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang tumbuh dari nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia.Pancasila tidak hanya menjadi simbol pemersatu, tetapi juga pedoman yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan arah dan jati diri bangsa.Istilah ideologi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Prancis Antoine Destutt de Tracy pada masa Revolusi Prancis.Secara etimologis, ideologi berasal dari kata idea (gagasan atau cita-cita) dan logos (ilmu atau pengetahuan). Dengan demikian, ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang gagasan yang disusun secara sistematis dan diyakini kebenarannya.Dalam konteks bernegara, ideologi berfungsi sebagai arah, dasar, serta pedoman hidup bagi warga negara.Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia digali dari nilai-nilai budaya, moral, dan spiritual masyarakat nusantara. Nilai tersebut lahir dari pengalaman dan realitas kehidupan bangsa, bukan hasil pemaksaan dari luar.Sebagai ideologi, Pancasila berperan mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk melalui nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.Baca juga: Latar Belakang 1 Oktober Diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasilacanva.com Sejarah Hari Kesaktian PancasilaKekuatan ideologi terbuka terletak pada tiga dimensi utama, yaitu realita, fleksibilitas, dan idealisme. Ketiga dimensi ini menjadikan Pancasila tetap relevan dari masa ke masa.Berikut lima ciri ideologi terbuka beserta contohnya dalam kehidupan nyata:Pancasila mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.Contoh: Pembaruan kebijakan digitalisasi pemerintahan (e-government) yang berlandaskan nilai transparansi dan keadilan sosial, menunjukkan adaptasi nilai Pancasila terhadap kemajuan teknologi.Ideologi terbuka menjunjung tinggi hak asasi dan kemanusiaan universal.Contoh: Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang dilandasi sila kedua Pancasila, menunjukkan komitmen bangsa terhadap penghormatan dan perlindungan martabat manusia.Pancasila bersumber dari nilai gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial yang hidup dalam masyarakat Indonesia.Contoh: Tradisi musyawarah desa dan gotong royong dalam pembangunan fasilitas umum mencerminkan penerapan nilai-nilai Pancasila yang lahir dari budaya lokal.Baca juga: 10 Contoh Sambutan Hari Kesaktian Pancasila 2025, Singkat dan MenginspirasiIdeologi terbuka diterima secara sukarela karena berasal dari kesepakatan rakyat, bukan hasil paksaan penguasa atau kelompok tertentu.Contoh: Pancasila diterima sebagai dasar negara melalui konsensus para pendiri bangsa pada sidang BPUPKI dan PPKI tahun 1945, bukan hasil tekanan kekuatan asing atau ideologi luar seperti liberalisme atau komunisme.Nilai-nilai ideologi terbuka dapat dikembangkan dan diinterpretasikan sesuai tantangan zaman tanpa mengubah esensi dasarnya.Contoh: Pembaruan kurikulum pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah yang menyesuaikan isu kontemporer seperti keberagaman, digitalisasi, dan perubahan iklim menunjukkan Pancasila terus berkembang secara kontekstual.Sebagai ideologi terbuka, Pancasila bukan sistem yang kaku. Nilai-nilainya hidup dalam praktik sosial, politik, ekonomi, dan hukum di Indonesia.Di tengah tantangan global seperti radikalisme, kesenjangan sosial, dan modernisasi, Pancasila menjadi panduan moral agar bangsa Indonesia tetap berada di jalur keadilan, kemanusiaan, dan persatuan.Contohnya, gerakan ekonomi gotong royong dan program BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) menunjukkan penerapan nilai keadilan sosial dalam konteks pembangunan ekonomi modern yang berpihak pada masyarakat kecil.Baca juga: 1 Oktober Hari Apa? Sejarah dan Tema Hari Kesaktian Pancasila 2025Pancasila sebagai ideologi terbuka menegaskan bahwa nilai-nilainya bersumber dari kehidupan masyarakat Indonesia sendiri, bukan hasil pemaksaan atau doktrin asing.Sifatnya yang dinamis, fleksibel, dan inklusif menjadikan Pancasila tetap relevan dari masa ke masa.Dalam semangat keterbukaan dan musyawarah, Pancasila menjadi dasar yang kokoh untuk membangun Indonesia yang adil, makmur, dan berkepribadian nasional yang kuat.Referensi:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-17 03:53