Wanita Paruh Baya di Puncak Bogor Dibunuh saat Sedang Salat

2026-02-04 06:39:33
Wanita Paruh Baya di Puncak Bogor Dibunuh saat Sedang Salat
Wanita paruh baya berinisial N (59) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat dibunuh perempuan berinisial NAF (32) saat sedang salat. Pelaku tega membunuh korban gara-gara persoalan tabungan."Pada magrib korban salat magrib, lalu secara tiba-tiba tersangka mengambil balok kayu yang berada di dapur dan menghampiri korban dan memukul saat korban sedang sujud pada bagian kepala," kata Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Anggi Eko Prasetyo, Sabtu (22/11/2025).Usai dipukul menggunakan balok, korban kemudian terlentang. Saat itu, pelaku kembali memukul korban menggunakan kayu sebanyak dua kali pada bagian kepala dan sempat meminjam uang Rp 1 juta kepada korban."Setelah itu pelaku dan korban sempat berbincang dan dalam perbincangan itu pelaku meminjam uang Rp 1 juta ke korban," bebernya.Korban memberikan perhiasan berupa gelang dan cincin kepada pelaku. Setelah diberikan, pelaku mengelap darah yang bersimbah di tubuh korban dan mengajak korban untuk ke rumah sakit, namun korban menolak."Kemudian pelaku sempat minta maaf dan mengajak korban ke rumah sakit. Korban tidak mau, kemudian kembali cekcok dan perhiasan sempat dikembalikan oleh pelaku kepada korban," bebernya.Korban lalu menjambak pelaku. Saat itu pelaku melawan dan mendorong korban kemudian menutup wajah korban menggunakan bantal."Kemudian bagian wajahnya ditutup dengan bantal hingga kehabisan nafas dan bagian dada itu diduduki oleh si pelaku. Dia mengambil pisau di kamar korban dan menusukkan ke dada korban sekali," ucapnyaMelihat korban masih bergerak, pelaku kembali menusukkan pisau kepada korban sebanyak delapan kali. Kemudian pelaku melarikan diri sambil mebawa barang dan perhiasan korban."Pelaku kabur dan membersihkan diri dengan membawa handphone dan perhiasan milik korban kembali ke rumahnya," bebernya.Keeskokan harinya, pelaku menghubungi anak korban karena sebelumnya mengetahui anak korban akan berkunjung ke rumah korban. Pelaku menyampaikan kepada anak korban bahwa korban tidak bisa dihubungi."Pelaku mencoba mengelabui keluarga dari korban dengan mentayakan korban tidak bisa dihubungi karena sedang pengajian dan dicek apakah keluarga datang ke rumah korban atau tidak," sebutnya.Sebelumnya, sebuah unggahan di media sosial (medsos) menunjukan wanita paruh baya menjadi korban dugaan pembunuhan di wilayah Cisarua, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Pelakunya merupakan seorang wanita.Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto membenarkan kejadian itu. Berkat gerak cepat Pamapta Polres Bogor dalam tindakan pertama penanganan tempat kejadian perkara (TKP), pelaku dapat diamankan."Berkat gerak cepat Polres yang dipimpin Pamapta (Patroli, Pengamanan, dan Pelayanan Masyarakat Terpadu) dalam penanganan TKP (tempat kejadian perkara), pelaku bisa segera kita amankan," kata Wikha.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-04 06:02