Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal

2026-01-11 14:40:52
Banjir Bandang Aceh Timur, Warga Bertahan Hidup dengan Makanan Hanyut hingga Masih Tidur di Tenda Terpal
— Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Timur, Aceh, menjadi mimpi buruk bagi Jahidin (37) dan keluarganya. Warga Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari itu harus berjuang bertahan hidup di tengah terjangan banjir setinggi delapan meter dengan kondisi serba terbatas.Banjir bandang Aceh Timur yang terjadi pada Rabu dini hari merusak rumah Jahidin, seperti ratusan rumah warga lainnya di Desa Sijudo.Bersama istrinya dan dua putri mereka yang berusia 2 tahun dan 6 tahun, Jahidin terjebak di perbukitan selama tiga hari tiga malam tanpa bekal makanan maupun logistik.“Saat itu saya hanya berpikir bagaimana anak-anak dan istri saya harus tetap hidup. Saya melihat ada kerupuk-kerupuk hanyut bersamaan dengan banjir dan saya pungut untuk kasih ke anak saya, yang penting mereka tidak lapar,” ujar Jahidin sambil meneteskan air mata.Baca juga: Penyaluran Bantuan ke Simpang Jernih, Titik Terjauh di Aceh Timur yang Terdampak BanjirIa mengaku terpaksa meminum air banjir demi bertahan hidup. Semua makanan yang hanyut dan masih bisa dimakan dipungutnya untuk diberikan kepada kedua anaknya.“Saya dan orang tua lainnya di sini menahan diri untuk tidak makan, agar makanan yang hanyut itu bisa kita kasih ke anak-anak kita. Kalau ada lebih, nanti baru kita makan,” tuturnya.Jahidin menjelaskan, saat banjir bandang Aceh Timur terjadi, ia dan kedua putrinya sedang sakit demam. Air mulai masuk ke rumah mereka sekitar pukul 04.00 WIB.“Saya dibangunin oleh istri saya, pak-pak air sudah masuk ke dalam rumah. Lalu saya bangun dan melihat air sudah setinggi lutut,” katanya, mengenang kejadian itu dalam wawancara dengan wartawan Serambinews.com, Maulidi Alfata, Jumat .Menyadari kondisi semakin berbahaya, Jahidin dan istri langsung menggendong kedua putri mereka untuk menyelamatkan diri. Karena arus banjir semakin deras, ia terpaksa menggunakan sampan untuk keluar dari titik banjir bandang.Evakuasi baru bisa dilakukan pada hari kelima, setelah aparat desa dari dusun sebelah berhasil menerobos ke Dusun Rantau Panjang dan mengevakuasi Jahidin sekeluarga.Baca juga: Update Banjir Aceh Timur, Korban Bertambah jadi 52 Orang dan Kerugian Ditaksir Rp 5,3 TDOK PRIBADI Salah satu ruas jalan Lokop, Kabupaten Aceh Timur, Minggu Usai banjir surut pada hari keempat, Jahidin nekat menempuh perjalanan dari Desa Sijudo, Aceh Timur, menuju Lubok Pusaka, Aceh Utara, untuk mencari pertolongan. Ia menyeberangi sungai menggunakan sampan kecil, lalu berjalan kaki bersama istrinya sambil menggendong dua putri mereka.Perjalanan itu harus ditempuh di tengah lumpur setinggi sekitar 60 sentimeter. Kaki salah satu anaknya bahkan sempat terluka akibat benda tajam di dalam lumpur.“Kami berjalan dalam lumpur yang tebal sampai kaki anak saya luka. Saya gendong satu, istri saya gendong satu. Kami menyeberang ke desa yang berbatasan langsung dengan Aceh Utara untuk minta bantuan. Meski kami tahu Aceh Utara juga diterjang banjir, kami tetap usaha agar anak kami tidak lapar dan bisa sembuh,” tuturnya.Upaya itu membuahkan hasil. Jahidin mendapatkan obat darurat di tenda kesehatan di Lubok Pusaka, yang kemudian membantu memulihkan kondisi anak-anaknya.Baca juga: Aceh Timur Terima Rp 4 Miliar Sesuai Janji Prabowo, Bupati: Untuk Kebutuhan Korban BanjirSementara itu, kondisi pengungsi banjir di Kabupaten Aceh Timur hingga kini masih memprihatinkan. Banyak korban banjir masih tidur di tempat yang tidak layak, hanya beralaskan dan beratapkan terpal biru tanpa dinding.


(prf/ega)