Kakorlantas Ajak Ojol-Pecalang Jadi Pelopor Keselamatan Lalu Lintas di Bali

2026-02-03 17:14:12
Kakorlantas Ajak Ojol-Pecalang Jadi Pelopor Keselamatan Lalu Lintas di Bali
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho berkesempatan berdialog dengan pengemudi ojek online (ojol) dan pecalang di Bali. Ia mengajak ojol dan pecalang menjadi pelopor keselamatan lalu lintas di Bali.Diketahui, Irjen Agus hadir di Warkop Ojol Jagra Dewata, Bali. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Polda Bali yang menindaklanjuti arahan Kapolri untuk mendekatkan Polri, khususnya Polantas, dengan komunitas masyarakat.Arahan Kapolri, menurut Irjen Agus, menekankan pelayanan kepada masyarakat secara ikhlas serta membangun kedekatan agar komunikasi di lapangan berjalan cepat dan efektif, terutama terkait pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan."Dengan silaturahmi yang erat, informasi di jalan bisa langsung disampaikan dan dikoordinasikan. Ini penting untuk pencegahan kecelakaan," kata Irjen Agus dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).Kakorlantas juga mendorong agar komunitas ojol yang sudah terbentuk dapat dikelola dengan baik. Ke depan, Irjen Agus berharap muncul fasilitas seperti shelter ojol, warung ojol, hingga bengkel ojol sebagai ruang konsolidasi bersama antara Polri, Polantas, ojol, dan pecalang."Tujuannya agar bersama-sama menciptakan keamanan, ketertiban, dan yang paling penting keselamatan pengguna jalan," imbuh Irjen Agus.Irjen Agus menilai ojol memiliki peran strategis karena aktivitas harian berada di jalan raya. Karena itu, ojol diharapkan menjadi pionir keselamatan berlalu lintas, memberikan perlindungan, serta menyampaikan informasi kepada kepolisian demi keselamatan bersama.Dalam dialog tersebut, Kakorlantas juga memberikan apresiasi kepada pecalang yang memiliki peran kuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Bali. Kehadiran pecalang disebut sebagai kekuatan kearifan lokal yang patut dijaga dan diperkuat sinerginya dengan Polri.Selain itu, Irjen Agus menyinggung masih adanya wisatawan yang kurang tertib berlalu lintas di Bali. Hal ini akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah untuk merumuskan pendekatan yang santun, beretika, dan menghormati kearifan lokal tanpa mengedepankan penindakan hukum semata."Lalu lintas adalah cermin budaya. Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia sehingga ketertiban berlalu lintas harus dijaga bersama," tegasnya.Di akhir kegiatan, Kakorlantas menegaskan komitmen Polri untuk terus mengubah wajah pelayanan menjadi lebih humanis dan bersahabat. Penindakan disebut sebagai langkah terakhir, sementara sistem e-TLE akan terus diperkuat demi mewujudkan Bali sebagai role model ketertiban dan keselamatan lalu lintas nasional.Simak juga Video 'Kakorlantas Siapkan Smart City Road Safety Policing di Bali':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 15:47