KUPANG, — Subuh baru beranjak ketika suara ayam berkokok bersahutan di Desa Nunmafo, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.Udara masih lembab setelah hujan deras mengguyur wilayah yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Timor Leste itu sekitar 45 menit sebelumnya.Dalam keheningan yang hanya ditemani embusan angin dingin sisa malam, Ignasius Neno Naisau (59) bangkit dari tidurnya.Lelaki berperawakan kecil itu mengenakan sweater putih berkelir hitam, celana pendek, serta caping anyaman bambu.Tangannya menggenggam senter kecil, satu-satunya penerang menuju kebunnya yang berada di Desa Fatoin, sekitar satu kilometer dari rumah. Masih gelap, masih sunyi, tetapi itulah jam kerja terbaik versi Ignasius.“Kalau pagi begini, saya lebih senang jalan. Angin tenang dan bisa dengar semua suara alam,” tuturnya kepada Kompas.com, Minggu .Baca juga: Tarif Listrik Desember 2025: Daftar Harga per kWh untuk Semua Golongan Pelanggan PLNJalan yang ia tempuh bukan jalan rata. Sepanjang rute itu dipenuhi batu karang tajam, tikungan kecil, dan jalur setapak yang terkadang hanya selebar telapak kaki.Namun baginya, itu bagian dari perjalanan menuju sumber rezeki keluarga.Tepat pukul 05.00 Wita, Ignasius tiba. Dari kejauhan, kebunnya tampak tidak biasa.Terang, menyala, seperti pulau cahaya di tengah daratan berbatu. Lebih dari 1.400 pohon buah naga berdiri rapi di hamparan satu hektar lebih lahan karang.Masing-masing diterangi lampu 20 watt yang membuat kebun itu tampak seperti desa kecil yang tak pernah tidur.Ribuan lampu itu merupakan bantuan program electrifying agriculture dari PLN Unit Induk Wilayah NTT yang diterima Ignasius pada Juni 2021.Program ini merupakan salah satu upaya PLN mendorong kemandirian energi berbasis listrik di sektor produktif NTT.Dengan demikian, petani tidak lagi bergantung pada pola tanam musiman dan dapat meningkatkan nilai ekonomi melalui pemanfaatan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.Dan Ignasius, dari ribuan petani di TTU, menjadi satu-satunya penerima bantuan lampu tersebut.“Saya sempat tanya, kenapa saya? Mereka bilang, habis keliling lihat kebun-kebun warga lainnya, saya yang paling siap,” katanya.Pilihan itu tepat. Sebab setelah lampu menyala, semua berubah.Sebelumnya, Ignasius hanya bisa panen buah naga saat musim hujan. Itu pun harganya turun karena semua petani panen bersamaan.Baca juga: PLN Kerahkan Hercules hingga Helikopter, Gubernur Aceh Pantau Pemulihan Listrik di Tengah Banjir BesarNamun, dengan pencahayaan, ia bisa memancing produktivitas tanaman pada musim kemarau, saat petani lain tidak panen.“Musim hujan harga buah sekitar Rp 5.000. Tapi musim panas, saya jual Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Karena saya sendiri yang panen,” ujarnya tersenyum.Produktivitas melonjak drastis. Sebelum ada lampu, satu pohon hanya menghasilkan 20–30 buah.Setelah terpasang lampu, hasilnya membengkak menjadi 50–60 buah. Sekali panen, ia mengantongi keuntungan hingga Rp 30 juta, naik signifikan dari sebelum program, yang hanya berkisar Rp 17–20 juta.“Lampu itu seperti buka pintu rezeki,” katanya lirih.Kisah Ignasius menjadi bukti electrifying lifestyle tidak harus dimulai dari kota besar.Di wilayah perbatasan yang kerap disebut tertinggal, listrik justru menciptakan peluang baru, mendorong inovasi lokal dan membuka jalan menuju ketahanan energi berbasis pemanfaatan listrik untuk produksi.Perjalanan buah naga Ignasius tidak diraih dalam sekejap. Ia memulai pada 2016 setelah melihat sejumlah rekannya sukses di Kecamatan Insana Tengah.Tanpa banyak modal, ia mendapatkan 300 anakan dari seorang teman dan menanamnya di kebun yang berada tepat di belakang Kantor Desa Fatoin.Tahun 2017, ia mendapat tambahan 300 anakan. Tahun 2018 dan 2019, ia menanam 200 anakan lagi. Total 800 pohon.Baca juga: Listrik dan Jaringan Komunikasi di Lokasi Bencana Sumut Terputus, Bobby Desak Telkom dan PLN Percepat PerbaikanNamun, jumlah itu belum cukup untuk membuat hidupnya berubah.Sampai suatu hari, beberapa petugas PLN ULP Kefamenanu datang bersama Kepala Desa Nunmafo. Mereka menawarkan pemasangan instalasi listrik dan lampu kebun.Bagi sebagian petani, tawaran seperti itu mungkin terdengar mewah. Bahkan menakutkan, termasuk Ignasius."Awalnya saya ragu. Takut salah, takut rugi. Tapi mereka bilang saya tidak bayar. Hanya harus jaga kebun dan ikuti cara pemeliharaan,” ujarnya.Ia setuju. Setelah instalasi terpasang, Ignasius memutuskan tidur di kebun hampir setiap malam untuk memastikan lampu-lampu itu bekerja.Dua minggu pertama menjadi momen yang tak pernah ia lupakan.“Bunga muncul di hampir semua tangkai. Banyak sekali. Saya sampai telepon petugas PLN, bilang terima kasih,” katanya.Salah satu keunggulan buah naga Ignasius adalah rasanya. Lebih manis, lebih padat, lebih segar.Ia tidak menggunakan pupuk kimia yang berlebihan. Semua masih mengandalkan pupuk organik.“Buah naga itu kalau terlalu banyak kimia, cepat besar tapi tidak manis,” jelasnya.Rasa manis inilah yang menarik pembeli dari berbagai daerah, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kota Kupang, hingga Timor Leste.Baca juga: Bongkar Mitos Radiasi, PLN Pastikan Masyarakat Hidup Aman di Dekat SUTETPembeli dari negara tetangga bahkan kerap datang langsung ke kebunnya.“Saya biasa kasih mereka makan dulu satu bokor (mangkuk besar). Mereka makan, senyum, lalu beli banyak,” katanya sambil tertawa.Pelanggannya memanggilnya “Bos Naga”, julukan yang kini melekat erat dengan identitasnya sebagai petani produktif di perbatasan.Meski pendapatan Ignasius kini mencapai ratusan juta rupiah per tahun, ia tetap enggan membeli sepeda motor apalagi mobil. Semua uang disimpannya untuk rencana besar, menambah lahan dan memperluas usaha.“Untuk apa beli motor? Jalan kaki juga sehat,” ujarnya sambil berjalan santai di sela tanaman.Ia berencana membeli lahan berdekatan dengan kebunnya, menambah 3.000 anakan baru, serta merekrut enam orang pekerja tetap.Lelaki yang hanya bersekolah sampai kelas II SD itu ingin menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan tidak boleh menjadi penghalang.“Yang penting kemauan. Kita tidak bisa tunggu orang bantu terus,” katanya.Di tengah wilayah pedalaman yang kerap terkendala infrastruktur, Ignasius menjadi contoh bagaimana listrik mampu mengubah pola pertanian.Ia menerapkan electrifying lifestyle tanpa banyak teori, hanya melalui penerapan yang sederhana namun konsisten.Baginya, lampu bukan sekadar cahaya. Lampu adalah tenaga untuk memaksa bunga keluar, memanjangkan musim panen, mengangkat harga jual dan akhirnya mengubah ekonomi keluarga.
(prf/ega)
Terang dari Batas Negara
2026-01-12 05:03:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:29
| 2026-01-12 04:10
| 2026-01-12 04:04
| 2026-01-12 03:35
| 2026-01-12 02:38










































