Antrean Panjang di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, Pengusaha Sebut Bukan Salah Kapal

2026-01-16 14:35:52
Antrean Panjang di Pelabuhan Merak dan Bakauheni, Pengusaha Sebut Bukan Salah Kapal
JAKARTA, – Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) menilai akar persoalan kemacetan dan antrean panjang di pelabuhan penyeberangan saat musim puncak bukan terletak pada kekurangan kapal.Masalah utama justru berada pada keterbatasan dermaga, baik dari sisi jumlah, kapasitas, maupun kualitasnya.Ketua Umum DPP GAPASDAP Khoiri Soetomo mengatakan, gangguan operasional yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, terutama di lintasan Merak–Bakauheni, dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem, uji coba sistem SPB online melalui Inaportnet, serta lonjakan kendaraan barang menjelang libur Natal dan Tahun Baru.Pada periode 17–19 Desember, cuaca buruk memengaruhi keselamatan pelayaran dan memicu antrean kendaraan hingga sekitar empat kilometer.Baca juga: Cek Pelabuhan Merak, Menko PMK dan Kapolri Ingatkan Cuaca Buruk Mengintai BantenKebijakan pengalihan kendaraan barang ke Pelabuhan Ciwandan dan BBJ mulai diterapkan pada 19 Desember.Situasi dituding memburuk keesokan harinya. Penumpukan parah terjadi di BBJ hingga membuat truk menunggu sampai dua hari untuk menyeberang.Arus kendaraan ke Merak tetap tinggi sehingga pengaturan buka tutup dilakukan dan beberapa kali berubah.Menurut Khoiri, kondisi tersebut bukan disebabkan minimnya armada. Ia menyebut kapal dalam keadaan siap operasi, bahkan didukung sekitar 70 kapal Ro Ro dengan ukuran di atas 5.000 GT.Penundaan pelayaran, kata dia, tidak dilakukan secara sengaja. Hambatan lebih banyak muncul karena keterbatasan sandar, kapasitas dermaga, serta pengaturan kendaraan di sisi darat.Ia menilai peran Pelabuhan Merak–Bakauheni sering terpinggirkan dalam pengambilan keputusan saat musim puncak.Padahal, lintasan ini memiliki tujuh pasang dermaga yang kompatibel dengan kapal Ro Ro dan terhubung langsung dengan jaringan Tol Trans Jawa dan Tol Trans Sumatra.“Namun ironisnya, pada masa peak season, Merak–Bakauheni justru tidak dijadikan pelabuhan utama. Seharusnya seluruh strategi nasional tetap berorientasi pada Merak–Bakauheni sebagai pelabuhan utama, sementara BBJ dan Ciwandan difungsikan sebagai pelabuhan bantuan, bukan sebaliknya,” kata Khoiri dalam keterangan tertulisnya, Kamis .Baca juga: Kebijakan WFA Picu Peningkatan Penumpang dan Kendaraan di Pelabuhan MerakGAPASDAP juga mengingatkan dampak jangka panjang dari ketimpangan pembangunan infrastruktur.Seluruh ruas Tol Trans Jawa dan Trans Sumatra bermuara ke pelabuhan penyeberangan. Penambahan kapasitas jalan tanpa penguatan dermaga berisiko menumpuk persoalan di satu titik.“Jika masukan ini terus diabaikan, maka ledakan kemacetan berskala besar di pelabuhan penyeberangan hanya tinggal menunggu waktu,” kata Khoiri.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 12:56