Diresmikan Menteri Agus, Ini Spesialnya Campus Immigration Point Undip

2026-01-12 00:51:51
Diresmikan Menteri Agus, Ini Spesialnya Campus Immigration Point Undip
Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto menyebut Campus Immigration Point di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah (Jateng) adalah kantor imigrasi yang spesial. Bukan hanya menjadi yang pertama di Indonesia, Campus Immigration Point menyajikan layanan keimigrasian yang lengkap di antara cabang Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus TPI Semarang.Awalnya Menteri Agus menjelaskan pelayanan Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus TPI Semarang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, Kendal dan Grobogan. Untuk menunjang pelayanan, sebelum ada Campus Immigration Point, berdiri empat cabang kantor layanan yaitu Kantor Imigrasi di Krapyak, Unit Pelayanan Paspor di Tentren Mall, Unit Layanan Paspor (ULP) Manunggal Jati dan Mal Pelayanan Publik Kabupaten Grobogan."Alhamdulillah untuk pertama kalinya di Indonesia kita resmikan Campus Immigration Point yang hadir di Universitas Diponegoro. Yang spesial Campus Immigration Point adalah jenis layanan yang kita hadirkan baik kepada WNI dalam hal pembuatan paspor baru, pergantian paspor, dan layanan paspor hilang atau rusak, serta layanan perpanjangan izin tinggal kepada WNA dalam satu atap," jelas Menteri Agus soal kespesialan Campus Immigration Point Undip di lokasi pada Senin (1/12/2025).Menteri Agus menuturkan kespesialan itu tak dimiliki ULP dan Immigration Lounge. "Berbeda dengan ULP, dan Immigration Lounge yang hanya menghadirkan pelayanan pengurusan paspor saja," sambung Menteri Agus.Menteri Agus kemudian berterima kasih pada pihak Undip Semarang yang telah menyediakan lokasi layanan keimigrasian ini. Menteri Agus mengatakan lokasi yang dipilih strategis"Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi tingginya kepada Bapak Rektor dan seluruh sivitas akademika Universitas Diponegoro, yang telah memfasilitasi seluruh proses pembangunan daripada unit pelayanan keimigrasian kepada masyarakat," ucap Menteri Agus.Sebagai wujud terima kasih atas tempat dan seluruh fasilitas gratis, Menteri Agus meminta Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi (Kakanwil Ditjenim) Jateng Haryono untuk mengerahkan petugas-petugas terbaiknya. Pelayanan Campus Immigration Point, tambah Menteri Agus, harus prima agar tak mencoreng kewibawaan Undip."Saya mendapat laporan tidak hanya tempat yang strategis yang disiapkan, tapi seluruh fasilitas gratis. Oleh karena itu saya minta Pak Haryono tempatkan petugas-petugas yang baik, berikan layanan yang terbaik, sehingga tidak mencoreng kewibawaan daripada Undip," tegas Menteri Agus.Peresmian Campus Immigration Point dipimpin langsung Menteri Agus pagi ini. Resmi beroperasinya Campus Immigration Point ditandai dengan pemukulan gong dan pemotongan pita di depan pintu masuk.Nampak hadir dalam acara peresmian ini Rektor Undip Profesor Suharnomo,Plt Dirjenim Yuldi Yusman, Direktur Jenderal Permasyarakatan (Dirjenpas) Mashudi. Hadir pula Kakanwil Ditjenim Jateng dan para pejabat Kementerian Imipas"Ini kami impikan Pak Menteri. Karena Undip ini punya banyak mahasiswa asing, sekitar 300-an. Dan setiap tahun pasti lebih dari 100 (mahasiswa asing baru) yang masuk ke sini," kata Profesor Suharnomo di lokasi.Tonton juga video "Menteri Agus Terima detikcom Awards : Ini Jadi Penyemangat"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 08:22