Menua Tanpa Peta

2026-02-03 10:45:48
Menua Tanpa Peta
INDONESIA sedang menua—diam-diam, tetapi pasti. Data Susenas Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk usia 65 tahun ke atas hampir menyentuh 22 juta orang.Angka ini sering lewat sebagai statistik rutin. Padahal di baliknya tersimpan pertanyaan kebijakan yang jauh lebih mendasar: siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas hidup jutaan lansia Indonesia—negara atau keluarga?Selama ini, jawabannya lebih sering jatuh ke keluarga. Negara hadir, tetapi belum sepenuhnya mengambil alih peran. Dan di situlah persoalan penuaan penduduk Indonesia bermula.Jika menilik struktur umur penduduk usia 15 tahun ke atas, Indonesia secara statistik masih tampak kokoh sebagai negara “produktif”.Kelompok usia muda-produktif seperti 15-24 tahun dan 25-34 tahun masing-masing sekitar 44 juta jiwa lebih — angka yang mencerminkan dominasi penduduk usia kerja dalam perekonomian nasional.Baca juga: Paradoks Global Citizenship: Karpet Merah atau Macan Kertas?Kelompok usia 35–39 tahun dan 40–44 tahun juga masing-masing masih berada di kisaran jutaan jiwa, menunjukkan pangsa usia produktif yang kuat dalam tenaga kerja dan konsumsi domestik.Di sisi lain, kelompok usia 60–64 tahun mencapai lebih dari 12 juta jiwa, dan usia 65–69 tahun sekitar 9,2 juta jiwa — belum termasuk lansia 70 tahun ke atas yang juga menambah jumlah lansia total hampir 22 juta orang (data kelompok 65+).Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun persentase lansia relatif lebih kecil dibandingkan kelompok produktif, pertumbuhannya merupakan porsi signifikan dalam populasi usia dewasa (Susenas, BPS, 2025).Dalam demographic transition theory, fase ini menandai peralihan dari masyarakat muda menuju masyarakat yang makin menua ketika angka harapan hidup meningkat dan angka kelahiran menurun.Tren ini terlihat jelas, meski mayoritas penduduk masih berada di produktif (15–64), kelompok lansia (65+) bertambah secara absolut dan proporsional seiring waktu, mencerminkan fenomena penuaan populasi yang tak bisa diabaikan.Namun, perubahan demografi ini tidak diikuti dengan perubahan cara negara mendistribusikan tanggung jawab sosial.Secara praktik, ketika seseorang melewati usia produktif, beban kesejahteraan berpindah dari pasar kerja ke rumah tangga.Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai rezim familialism welfare, ketika keluarga menjadi penanggung utama risiko usia tua—sakit, kehilangan pendapatan, dan ketergantungan (Saraceno, 2016). Beban ini tidak tercatat dalam APBN, tetapi nyata dalam dapur rumah tangga.Dalam demographic transition theory, fase ini menandai peralihan dari masyarakat muda menuju masyarakat menua, ketika usia harapan hidup meningkat dan angka kelahiran menurun (Notestein, 1945). Indonesia kini tepat berada di fase itu.Pemerintah tentu tidak sepenuhnya absen. Strategi Nasional Peningkatan Kualitas Hidup Lansia telah disusun.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-02-03 09:34