Saat Limbah Menjadi Berkah: Kisah Ibu-ibu Kampung Perca Bogor Bangkit dari Pandemi

2026-01-11 22:06:09
Saat Limbah Menjadi Berkah: Kisah Ibu-ibu Kampung Perca Bogor Bangkit dari Pandemi
BOGOR, – Dari tumpukan limbah tekstil yang berwarna-warni, warga sebuah permukiman kecil di Kota Bogor berhasil menenun harapan baru.Di Kampung Perca, potongan kain yang dulu dianggap tak berguna kini berubah menjadi sumber penghasilan, ruang belajar, sekaligus gerakan ekonomi kreatif yang lahir pada masa penuh tekanan: pandemi Covid-19.Di kampung yang berada di Kelurahan Sindang Sari ini, sisa-sisa kain tak lagi dilihat sebagai sampah yang mengotori halaman atau memenuhi sudut rumah. Potongan kain aneka warna itu kini menjadi simbol ketahanan warga dan upaya bersama untuk bertahan di masa sulit.Baca juga: Tergerus Modernisasi, Warga Berjuang Kembalikan Wajah Asli Kota Paris di BogorBeberapa tahun lalu, limbah perca hanya menjadi tumpukan tak beraturan. Namun ketika gagasan pengelolaan limbah dan ekonomi kreatif mulai masuk, warga bertanya: apa yang bisa diwujudkan dari sisa-sisa ini?Pertanyaan itu baru menemukan bentuknya pada masa pandemi—ketika tekanan ekonomi mengubah cara hidup banyak keluarga, khususnya para ibu rumah tangga.Ditemui di galeri utama Kampung Perca, pengurus Kartika Dwi menceritakan kondisi pada 2020. Di Sindangsari kala itu, pandemi tidak hanya membawa kesunyian, tetapi juga ketidakpastian ekonomi.Para suami kehilangan pekerjaan, jam kerja dipangkas, dan banyak keluarga kehilangan sumber nafkah. Kondisi ini menjadi pukulan berat terutama bagi ibu rumah tangga yang sepenuhnya bergantung pada penghasilan suami.Dari situ, kata Kartika, lahir kepedulian seorang warga RW 01, Nining Sriningsih, yang juga menjadi Ibu RW di kampung tersebut.Melihat tetangganya terdesak kesulitan ekonomi, Nining merasa tak bisa diam. Ia memikirkan cara agar ibu-ibu tetap bisa berkegiatan dan mendapatkan pemasukan.Baca juga: Menelisik Kota Paris di Bogor, Jejak Permukiman Kolonial yang Tak Lagi Asri“Awal mulanya itu waktu itu kan tahun 2020 itu Covid-19. Di mana keluarga kami juga terkena dampaknya ya, ada yang diputus juga kerjanya di PHK, terus ada juga yang dibatasi waktu-waktu kerjanya," kata Kartika.Nining kemudian mengajak ibu-ibu berlatih menjahit agar suatu hari dapat mandiri. Ia menghubungi pemilik kursus dan konveksi Harapan Antar Sesama (HAS), yang memberi izin pemakaian mesin jahit serta sisa kain dan benang sebagai bahan belajar."Kebetulan di lantai 2 ini kan ada konveksi ya. Nah, di bawah itu terkena dampaknya juga tapi kain-kain itu masih banyak," katanya.Dukungan itu menjadi fondasi lahirnya Kampung Perca. Ide tersebut disampaikan kepada Lurah Sindang Sari, dan mendapat dukungan penuh dari istri Lurah, Enny Wulan, yang berpengalaman di dunia fesyen.“Ibu RW itu (Nining) cerita ke Pak Lurah saat itu. Nah, cerita bagaimana ya biar bisa mendapatkan penghasilan," ujar Kartika.Dari sinilah semangat kolektif itu bermula. Pada awal September 2020, sebanyak 15 ibu mulai bergabung. Mereka belajar bergantian, dipandu Enny dan dua ibu lain yang sudah terbiasa menjahit. Masker menjadi produk pertama mereka.Setelah dipromosikan dalam sebuah kegiatan, pesanan mulai berdatangan.Baca juga: Warung di Bogor yang Menjadi Pelabuhan Mahasiswa Saat Sumatera Berduka/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Para pengrajin di kampung Perca saat mengerjakan produk, Senin Tak disangka, gerakan warga ini mendapat sambutan luas dari pemerintah kota. Kartika mengatakan dukungan mulai terasa ketika produksi masker meningkat.Kartika berujar, perhatian pemerintah mulai terasa sejak awal mereka memproduksi masker. Ia menceritakan bagaimana para ibu, yang awalnya bekerja secara mandiri dan seadanya, mulai mendapat dorongan.“Diarahkan juga oleh Bapak Camat saat itu dukungannya sampai ke Bapak Wali Kota. Jadi ada beberapa kantor-kantor yang memesan kepada kami. Minimalnya 200 pieces gitu," kata dia.Kartika melanjutkan bahwa kondisi tempat produksi saat itu jauh berbeda dengan yang sekarang. Para ibu bekerja di ruangan kecil dengan peralatan seadanya. Mesin-mesin tua sering rusak, tetapi dari penghasilan pertama, mereka perlahan membeli alat, yaitu gunting, setrika, meteran, hingga memperbaiki mesin jahit.


(prf/ega)