JAKARTA, – Indonesia kini berada di tengah pergerakan massa besar, Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).Peristiwa ini bukan sekadar rutinitas mudik, melainkan sebuah ujian masif bagi ketahanan logistik dan manajemen mobilitas nasional.Di tengah kepungan cuaca ekstrem, ancaman bencana hidrometerorologi, dan perubahan pola kerja digital, pemerintah meluncurkan strategi terpadu yang mengintegrasikan kekuatan kepolisian, sipil, dan teknologi kecerdasan buatan.Baca juga: Optimalkan Distribusi Lalin, Junction Palembang BeroperasiKapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, bersama jajaran menteri dari Kabinet Merah Putih, termasuk Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kemenko Polkam, dan Basarnas, resmi mengaktifkan komando terpusat di Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) pada Senin .Misi tahun ini jelas nol kecelakaan (zero accident), dan nol fatalitas (zero fatality), sebuah target ambisius di tengah anomali cuaca dan trafik.Jika tahun-tahun sebelumnya perhatian utama adalah kemacetan, kali ini bencana hidrometeorologi menempati prioritas tertinggi.Peringatan dini BMKG mengonfirmasi bahwa curah hujan tinggi akan menyertai perjalanan para pemudik, meningkatkan risiko banjir, dan tanah longsor secara signifikan.Kapolri menyoroti sejumlah titik kritis di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang secara historis rawan tergenang.Baca juga: HK Tambah Dua Rest Area Baru di Tol KutepatTerkait hal ini, Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryo Nugroho telah menginstruksikan penyiagaan alat berat di zona merah longsor."Kami tidak hanya menyiapkan tim urai kemacetan, tapi juga tim mitigasi bencana. Jika cuaca ekstrem menghentikan penyeberangan di Merak atau Ketapang, kita sudah siapkan buffer zone. Kendaraan akan ditampung di sana agar tidak meluber dan mengunci jalan arteri," tegas Agus.Sinergi dengan Basarnas juga memungkinkan evakuasi udara dan darat bergerak lebih cepat jika terjadi anomali cuaca yang memutus jalur utama.Masyarakat kini dipersenjatai dengan aplikasi Travoy yang telah terintegrasi dengan data real-time BMKG, memungkinkan pemudik mengambil keputusan berbasis data sebelum terjebak di zona badai.Manajemen lalu lintas modern pun kini telah meninggalkan metode konvensional.Sebagaimana dikatakan Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, bahwa JMTC menjadi sebuah Collab Center lintas instansi.Kekuatan utamanya terletak pada 3.000 kamera pemantau (CCTV) yang terpasang setiap 500 meter di sepanjang jalur tol.Baca juga: Darurat Bensin di Jalan Tol? Jangan Panik, Ini Daftar SPBU Siaga
(prf/ega)
Strategi Pemerintah Kawal Arus Nataru di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
2026-01-12 05:01:18
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:21
| 2026-01-12 05:02
| 2026-01-12 04:43
| 2026-01-12 04:37










































