Bullying Tak Selalu Bermula dari Sekolah, Pola Asuh Keliru Berpengaruh

2026-01-12 05:44:50
Bullying Tak Selalu Bermula dari Sekolah, Pola Asuh Keliru Berpengaruh
JAKARTA, - Direktur Bina Ketahanan Remaja Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga BKKBN, Edi Setiawan, mengungkapkan bahwa kasus perundungan (bullying) tidak selalu bermula dari lingkungan sekolah.Ia menilai, perilaku bullying kerap dipicu oleh pola asuh yang keliru serta kekecewaan anak di dalam keluarga, yang kemudian diluapkan ke lingkungan lain, termasuk sekolah.Baca juga: Antisipasi Angin Kencang Hingga 21 Desember, Pramono: Pohon-pohon Tua Kami Rapikan"Meskipun kejadiannya di sekolah, itu sebenarnya adalah luapan dari perilaku anak ketika dia kecewa dengan keluarganya. Jika keluarga sudah bisa melaksanakan fungsinya, kasus bullying tidak akan terjadi," ucap Edi di kantor Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Selasa .Ia menjelaskan, pola asuh yang otoriter di dalam keluarga juga dapat mendorong anak menjadi pelaku bullying, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar."Anak yang biasa dikerasin di rumah cenderung mencari pelampiasan untuk menunjukkan kuasanya di luar kepada orang yang lebih lemah (adik kelas atau teman yang lemah). Ini karena di rumah dia "ditindas"," ungkapnya.Selain itu, pola asuh tanpa aturan di rumah juga berpotensi memicu anak menjadi pelaku bullying karena menganggap perilaku menyakiti orang lain sebagai hal yang wajar."Tidak ada aturan di rumah, semua dibolehkan. Akan menyebabkan kasus bully. Anak merasa apa yang dia lakukan sah-sah saja, termasuk menyakiti temannya, karena di rumah tidak ada aturan," ungkapnya.Ia menambahkan, kurangnya perhatian orangtua juga menjadi faktor risiko terjadinya bullying.Baca juga: Cerita Siswa Sekolah Rakyat Berjuang Lepas dari Jerat Trauma Bullying"Orangtua sibuk main gadget, anak dicuekin. Anak akan mencari validasi tentang siapa dirinya di luar, salah satunya dengan menjadi pembuli," jelasnya.


(prf/ega)