JAYAPURA, – Langkah kaki belasan tenaga medis ini tak pernah ringan.Lumpur menelan betis, hutan belantara menghadang pandangan, dan sungai berarus deras harus diseberangi dengan air setinggi dada orang dewasa.Namun, semua rintangan itu tak menyurutkan niat mereka untuk satu tujuan mulia: menghadirkan layanan kesehatan bagi warga terisolir di Kampung Omon, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, Papua.Belasan tenaga medis dari Komunitas Medis Papua Tanpa Batas, terdiri dari tiga dokter, perawat, dan apoteker, menempuh perjalanan panjang demi menjangkau kampung yang selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh pelayanan kesehatan.Perjalanan dimulai dari Kota Sentani menuju Distrik Gresi Selatan dengan kendaraan selama sekitar tujuh jam.Dari pusat distrik, mereka masih harus berjalan kaki selama tujuh jam menyusuri jalan setapak licin, berlumpur, dan dikepung hutan lebat.Baca juga: Menanam Sawit di Papua: Risiko Ekologi dan Pelajaran dari SumateraTak ada jalan beraspal, tak ada jembatan. Hanya alam liar yang menuntut fisik kuat, kesabaran, dan keberanian.Rintangan terberat datang saat tim medis harus menyeberangi tiga sungai besar berarus kencang. Tanpa alat pengaman, mereka bergandengan tangan sambil membawa peralatan medis seadanya.Semua pengorbanan itu dilakukan karena warga Kampung Omon belum pernah merasakan pelayanan kesehatan secara rutin dari puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura.Selama bertahun-tahun, warga hanya bergantung pada pengobatan tradisional. Bahkan, tak sedikit warga yang meninggal dunia saat berusaha dibawa ke pusat distrik karena jarak yang terlalu jauh.Dokter Rafael Morin, salah satu anggota tim medis, mengatakan pelayanan di Kampung Omon sudah dilakukan sekitar enam kali sejak 2021. Hingga kini, komunitas mereka menjadi satu-satunya tim medis yang rutin melayani warga setempat.“Kami mulai melayani masyarakat di sini sejak tahun 2021. Saat itu masyarakat yang turun ke ibukota distrik untuk kami layani. Namun sejak tahun 2024, kami memutuskan untuk masuk dan melayani masyarakat di sini dan sampai saat ini sudah enam kali kami datang untuk layani mereka,” ujar dr Rafael.Baca juga: Kapolri Tunjuk Polwan, Brigjen Sulastiana Jadi Wakapolda Papua Barat“Dari pelayanan kami mulai dari Skouw hingga Sarmi, Kampung Omon adalah titik paling jauh dan paling sulit karena berada di tengah hutan dan harus berjalan kaki ke sini. Tapi bagi kami pelayanan ini adalah perpuluhan untuk Tuhan jadi apapun kendalanya tetap kami lakukan,” ungkapnya.Menurut dr Rafael, penyakit yang paling banyak diderita warga adalah malaria, ISPA, stunting, penyakit kulit, diare, hingga dugaan TBC. Kondisi ini diperparah minimnya edukasi kesehatan serta ketiadaan MCK dan air bersih.“Penyakit yang paling banyak dialami oleh warga di sini adalah malaria, ISPA, diare, mialgia, penyakit kulit, suspek TB, asam urat hingga reumatik. Ini juga tidak lepas dari ketiadaan MCK serta pola hidup bersih dan sehat,” bebernya.
(prf/ega)
Menembus Hutan dan Sungai, Tenaga Medis Relakan Nyawa Demi Layani Warga Terisolir Papua
2026-01-12 06:11:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:47
| 2026-01-12 05:12
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 04:11










































