KITA sangat prihatin dan bersimpati atas banjir yang kembali melanda berbagai wilayah — di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah kawasan lain yang menyebabkan korban nyawa dan kerugian material yang tidak sedikit.Peristiwa ini sejatinya bukan lagi peristiwa mengejutkan. Ia hadir berulang, dengan dampak yang semakin besar dan korban yang hampir selalu sama: masyarakat rentan di bantaran sungai, petani, nelayan, pekerja di daerah rawan.Di tengah rutinitas tanggap darurat, muncul pertanyaan mendasar: apakah ini semata bencana alam, atau bagian dari efek kumulatif kerusakan lingkungan yang diciptakan manusia?Hujan memang bagian dari siklus alam. Namun banjir besar hari ini tidak bisa dilepaskan dari tindakan manusia: penebangan hutan yang masif, konversi lahan, eksploitasi tambang — ditambah tata kelola sumber daya alam yang rapuh.Ketika alam dipaksa tunduk pada logika keuntungan jangka pendek, keseimbangan ekosistem runtuh, dan air menjadi saksi sekaligus penyampai pesan: kerusakan itu nyata, dan itu manusia yang membuatnya.Baca juga: Misteri Kayu-kayu Gelondongan di Banjir Sumatera Menurut data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2024 Indonesia mengalami deforestasi netto seluas 175,4 ribu hektar — hasil dari deforestasi bruto sekitar 216,2 ribu hektar dikurangi reforestasi 40,8 ribu hektar. Dari periode 1990 sampai 2024, data dari platform pemantau tutupan lahan menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan sekitar 18 juta hektar hutan alam.Laporan pemantauan tahun 2022 mencatat bahwa luas lahan berhutan di seluruh daratan Indonesia adalah sekitar 96,0 juta hektar — atau sekitar 51,2% dari total daratan — dan 92% dari luas tersebut berada dalam kawasan hutan resmi.Meskipun ada tren penurunan deforestasi netto (misalnya 104.000 hektar pada periode 2021–2022, turun dari 113.500 hektar pada periode 2020–2021) — angka kehilangan hutan tetap besar dan menunjukkan bahwa tekanan terhadap hutan serta ekosistem terus berlangsung.Angka-angka tersebut bukan hanya statistik — mereka berarti bahwa habitat alami menyusut, daerah resapan air berkurang, ekosistem terganggu, dan kemampuan alam untuk menyerap air dan menahan erosi melemah.Ketika deforestasi terus berlanjut, struktur alam yang dulu menopang kehidupan manusia — hutan hujan, kawasan gambut, mangrove, lahan resapan — menjadi rapuh. Tidak heran jika banjir besar dan longsor semakin sering terjadi. Ulah manusia memungkinkan bencana banjir lebih berdaya dahsyat.Baca juga: Saatnya Taubat EkologisMenjadi penting disadari bahwa krisis ekologis ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keutuhan relasi manusia–alam–sesama–transenden. Dalam tradisi iman, Paus Fransiskus mengingatkan dalam ensiklik Laudato Si' bahwa kerusakan lingkungan adalah panggilan untuk pertobatan ekologis — pertobatan cara hidup dan cara kita memperlakukan ciptaan oleh semua orang lintas iman.Di Indonesia, kesadaran lintas iman ini dipertegas dalam Deklarasi Istiqlal, yang menekankan perlunya merawat alam semesta di tengah krisis iklim global. Deklarasi ini penting karena menggeser bahasa agama dari ruang ritual ke ruang etika publik—dari doa menjadi tanggung jawab bersama.Dalam Islam, Al-Qur’an meneguhkan bahwa kerusakan di darat dan laut banyak terjadi karena “perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41), mengingatkan bahwa manusia punya tanggung jawab atas bumi yang dipercayakan kepadanya.Tradisi Kristiani dengan narasi penciptaan (Kejadian 2:15) menegaskan manusia adalah penata-layan, perawat dan pemelihara alam, bukan penguasa tanpa batas. Ayat tersebut menyatakan bahwa “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”.Nilai spiritual dalam tradisi lain—Hindu, Buddha, Konghucu—juga menekankan relasi saling ketergantungan, harmoni, dan tanggung jawab terhadap alam.
(prf/ega)
Banjir, Krisis Iklim, dan Tanggung Jawab Lintas Iman
2026-01-12 06:17:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:51
| 2026-01-12 05:48
| 2026-01-12 05:29
| 2026-01-12 04:54
| 2026-01-12 03:54










































