Setelah air banjir surut dan kehidupan perlahan kembali berjalan, ancaman kesehatan apa saja yang masih mengintai masyarakat, dan bagaimana kita bisa melindungi diri sejak dini?Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menyisakan duka yang mendalam. Tidak hanya merenggut korban jiwa serta merusak rumah dan infrastruktur, bencana ini juga meninggalkan persoalan lanjutan yang kerap luput dari perhatian, yakni ancaman penyakit menular pascabanjir.Ketika air mulai surut dan warga berupaya membersihkan lingkungan serta menata kembali kehidupan, risiko gangguan kesehatan justru dapat meningkat. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai secara serius adalah leptospirosis, penyakit zoonosis yang sering muncul setelah kejadian banjir.Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini hidup di ginjal hewan, terutama hewan pengerat seperti tikus, dan dikeluarkan melalui urine. Manusia dapat terinfeksi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka, atau melalui mata, hidung, dan mulut, terutama saat bersentuhan dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi.Dalam situasi banjir, risiko penularan meningkat signifikan. Air banjir kerap bercampur dengan lumpur, limbah, dan urine hewan, sehingga menjadi media penyebaran bakteri yang sangat efektif.Peran tikus dalam penyebaran leptospirosis tidak dapat diabaikan. Hewan ini dikenal sebagai reservoir utama bakteri Leptospira. Menariknya, tikus dapat membawa bakteri tersebut sepanjang hidupnya tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap mengeluarkannya melalui urine.Saat banjir terjadi, habitat tikus terganggu. Mereka keluar dari sarang dan berpindah ke area permukiman, memperluas kontaminasi lingkungan. Tidak jarang, air banjir membawa bakteri hingga ke rumah warga, jalan, bahkan lokasi pengungsian.Di Sumatera, banjir bandang umumnya dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi, kerusakan daerah aliran sungai, serta alih fungsi lahan.Setelah banjir, aktivitas pembersihan rumah dan lingkungan sering dilakukan tanpa perlindungan memadai. Kondisi inilah yang membuka peluang masuknya bakteri ke dalam tubuh manusia.Gejala leptospirosis pada tahap awal kerap menyerupai flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemas.Namun pada kasus yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal, perdarahan paru, bahkan berujung pada kematian.Data kesehatan menunjukkan bahwa tingkat kematian leptospirosis berkisar antara 5 hingga 10 persen, dan dapat meningkat jika diagnosis serta penanganan terlambat.Oleh karena itu, kewaspadaan pascabanjir menjadi hal yang sangat penting. Pencegahan leptospirosis tidak selalu membutuhkan langkah besar, tetapi konsistensi dalam kebiasaan sehat dan dukungan sistem yang memadai.Menghindari kontak langsung dengan air banjir merupakan langkah paling dasar. Jika terpaksa harus bersentuhan, penggunaan alat pelindung seperti sepatu bot karet dan sarung tangan sangat dianjurkan.Studi kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa perlindungan sederhana ini dapat menurunkan risiko infeksi secara signifikan pada kelompok berisiko.
(prf/ega)
Waspada Leptospirosis, Ancaman Penyakit Pascabanjir
2026-01-12 06:40:44
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:57
| 2026-01-12 05:52
| 2026-01-12 05:38
| 2026-01-12 05:19










































