JAKARTA, - UBS Group AG kembali mengurangi kepemilikan sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan pada Senin , perusahaan melaporkan aksi jual jumbo sebesar 3,57 miliar saham dalam satu transaksi. Dalam laporan tersebut, UBS menyebut bahwa sebelum transaksi, mereka menggenggam 29.891.179.063 saham atau 8,05 persen kepemilikan. Setelah aksi jual yang dilakukan pada 17 November 2025, porsi kepemilikan menyusut menjadi 26.319.836.763 saham atau 7,09 persen. Aksi divestasi itu melibatkan saham jenis common stock dengan harga transaksi Rp 226,5891 per saham. UBS menjelaskan, penjualan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas lindung nilai (hedging) derivatif klien. UBS AG London Branch tercatat sebagai pemilik manfaat langsung dari kepemilikan tersebut. Sementara itu, kepemilikan tidak langsung tercatat berasal dari sejumlah entitas UBS lainnya, seperti UBS AG Singapore Branch, UBS Switzerland AG, UBS AG Hong Kong Branch, serta UBS Fund Management (Switzerland) AG dan MultiConcept Fund Management S.A. sebagai manajer dana.Baca juga: BUMI Umumkan Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru Usai RUPSLBAnalis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pergerakan saham BUMI masih berada dalam fase tren naik (uptrend). Bahkan sejauh ini masih didukung oleh dominasi volume pembelian. Meski indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan pelemahan, namun tetap berada di area positif, menandakan momentum kenaikan masih terjaga. Sementara itu, indikator Stochastic sudah berada di area overbought, yang berarti harga berada di level tinggi dan rawan koreksi jangka pendek. Kendati begitu, peluang penguatan harga tetap terbuka selama BUMI mampu menembus level kunci di sekitar Rp 230, dengan area resistansi di 244 dan potensi target penguatan menuju 252-266. “Secara teknikal BUMI masih berada di fase uptrend-nya dan masih didominasi oleh volume pembelian. MACD sudah melandai di area positif dengan Stochastic yang berada di area overbought. Buy if break - S230 R 244 - TP 252-266,” ujar Herditya kepada Kompas.com, Rabu . Baca juga: BUMI Perluas Dampak ESG melalui Budidaya Mangrove dan Penguatan Usaha Mikro Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai BUMI masih memiliki ruang untuk menguat, meski ruangnya mulai terbatas. Menurutnya, area pergerakan harga saham akan berada di kisaran Rp 232 - Rp 250. “Saat ini masih memiliki ruang untuk mengalami kenaikkan, meskipun mulai terbatas. Area bermain akan berada di kisaran 232-250,” katanya kepada Kompas.com. Saham BUMI kembali melesat pada perdagangan sesi pertama Rabu ini. Berdasarkan data perdagangan, Stockbit, harga BUMI menguat 9,32 persen ke level Rp 258 per saham. Sepanjang sesi, saham emiten batu bara tersebut sempat menyentuh level tertingginya di Rp 260, setelah bergerak stabil di kisaran Rp 236 di awal perdagangan. Baca juga: Jelang RUPSLB, Saham BUMI Menguat, Analis Soroti Efek Akuisisi Tambang Emas Australia Di sisi fundamental, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan saham BUMI turut dipengaruhi dinamika sektor batu bara yang saat ini menghadapi tekanan dari sisi permintaan global. Nafan menjelaskan aksi korporasi dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) UBS Group AG yang berkaitan dengan pengurangan porsi kepemilikan saham menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar terhadap BUMI. Namun, lebih jauh ia menyoroti prospek sektor batu bara secara keseluruhan masih berada dalam tren melemah. Menurutnya, lemahnya permintaan dunia terhadap batu bara terjadi karena dua faktor utama. Pertama, perlambatan ekonomi global yang menekan kebutuhan energi berbasis batu bara. Baca juga: Saham Bumi Resources Melejit 32 Persen Usai Kuasai 100 Persen Saham Wolfram Limited Kedua, dorongan kuat menuju transisi energi bersih di berbagai negara, termasuk peningkatan penggunaan energi hijau. “Jadi sebenarnya permintaan untuk energi bersih ya, yang lagi hijau ya, secara global pun juga melalui kenaikannya sehingga mengurangi permintaan daripada penggunaan batu bara untuk energi listrik misalnya,” ucap Nafan kepada Kompas.com. Tekanan tersebut membuat prospek emiten batu bara cenderung menantang, termasuk BUMI, meski pergerakan harga sahamnya masih berfluktuasi mengikuti dinamika pasar.Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
(prf/ega)
UBS Lepas 3,57 Miliar Saham BUMI, Kepemilikan Turun Jadi 7,09 Persen
2026-01-12 05:04:08
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:08
| 2026-01-12 04:12
| 2026-01-12 03:36
| 2026-01-12 03:15
| 2026-01-12 03:01










































