JAKARTA, - Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) menyebut Indonesia berpotensi memproduksi Sustainable Aviation Fuel atau SAF sebesar 2 hingga 3 juta kiloliter per tahun setelah palm oil mill effluent atau POME resmi diterima sebagai bahan baku.POME merupakan limbah cair pabrik kelapa sawit. IPOSS mengkajinya bersama Tripatra dan Kementerian Perhubungan untuk diajukan ke International Civil Aviation Organization atau ICAO.Kasubdit Riset IPOSS, Dimas Haryo Pamungkas, menjelaskan perhitungan awal berasal dari produksi tandan buah segar kelapa sawit yang mencapai 256 juta ton. Dari volume itu, sekitar 1 persen dapat menjadi minyak POME.“Minyak POME itu sebesar 1 persen saja dari 256 juta ton maka ada sekitar 2,5 juta ton POME oil yang bisa di recovery secara potensi,” kata Dimas dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis .Baca juga: Limbah Cair Sawit Disetujui Jadi Bahan Bakar Pesawat, Jadi Peluang Baru untuk IndonesiaProduksi POME akan meningkat bila digabungkan dengan minyak jelantah dan palm fatty acid distillate atau PFAD.“SAF yang berpotensi dapat dihasilkan di Indonesia itu dapat mencapai 2-3 juta kilo liter,” ujar Dimas.Dimas menilai permintaan SAF terus naik. ICAO, Uni Eropa, dan sejumlah negara sudah mewajibkan maskapai memakai avtur campuran SAF dengan komposisi tertentu. International Air Transport Association atau IATA menyebut penggunaan SAF menekan emisi karbon pesawat hingga 65 persen.Pemerintah Indonesia menargetkan campuran SAF 5 persen pada 2030.“Permintaan SAF ini akan melompat tinggi pada tahun 2050 diprediksi akan mencapai 515 juta ton untuk seluruh dunia untuk internasional,” kata Dimas.Baca juga: Limbah Cair Sawit, Pencemar Lingkungan yang Berpotensi Jadi Sumber Energi TerbarukanIPOSS bersama Tripatra dan kementerian terkait mengkaji potensi POME sejak 2024. POME berasal dari lapisan cair pada kolam limbah pabrik sawit.Kajian tersebut dibawa ke Committee on Aviation Environmental Protection atau CEAP di Sao Paulo, Brasil, pada Oktober lalu.Usulan itu disetujui ICAO.“Akhirnya kemudian diputuskan itu diterima usulan kita dan akhirnya di tanggal 4 November dilakukan conference call yang akhirnya menentukan ini layak untuk dipublikasikan di dalam buku ICAO yang terbit di bulan November 2025,” kata Dimas.
(prf/ega)
Limbah Cair Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat, RI Bisa Produksi 3 Juta Kiloliter Per Tahun
2026-01-11 23:40:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:33
| 2026-01-11 22:02
| 2026-01-11 21:53
| 2026-01-11 21:43
| 2026-01-11 21:28










































