- Pernyataan Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul terkait artis hingga influencer yang hendak mengelola donasi harus izin ke pemerintah menjadi sorotan publik.Pernyataan itu muncul setelah influencer sekaligus konten kreator Ferry Irwandy berhasil menghimpun dana bantuan untuk korban banjir di Sumatera sebanyak lebih dari Rp 10,3 miliar hanya dalam 24 jam.Penggalangan dana dilakukan melalui platform Kitabisa dan telah disalurkan ke Sumatera pada Kamis .Aksi solidaritas yang juga diikuti oleh influencer lainnya ini membuktikan bahwa julukan penduduk Indonesia sebagai warga paling dermawan sedunia bukan isapan jempol semata.Namun, di balik fenomena tersebut, muncul pergeseran pola filantropi masyarakat di mana publik kini lebih mempercayai figur induvidual, seperti influencer dibandingkan institusi negara untuk mengelola dana bantuan banjir di Sumatera.Lantas, mengapa publik kini lebih percaya kepada influencer?Baca juga: Galang Dana Rp 10,3 Miliar, Ferry Irwandi Kirim 5,2 Ton Bantuan ke Sumatera dalam 2 HariSosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono mengatakan, fenomena di mana masyarakat lebih percaya individual ketimbang informasi negara bukan hal yang baru.Dia mengatakan, fenomena yang sama juga pernah terjadi di masa Orde Baru.Bedanya, saat itu, istilah influencer belum bermunculan seperti saat ini.Influencer adalah orang yang memiliki banyak pengikut di media sosial sehingga mampu memengaruhi opini dan perilaku audiensnya.Dengan pengikut yang banyak, tak mengherankan jika seorang influencer kini mudah mendapat kepercayaan dari publik.Apalagi, istilah ini muncul ketika akses teknologi meningkat pesat dan publik cenderung mengonsumsi informasi dari media sosial."Kenapa kok sekarang influencer itu percaya? Karena influencer itu mengatakan apa yang yang mereka hadapi dan mereka lihat kepada followers-nya yang banyak. Nah, sehingga mereka dianggap lebih jujur," jelas Drajat, saat dihubungi Kompas.com, Rabu .Di sisi lain, meningkatnya kepercayaan publik kepada influencer juga tidak lepas dari kinerja pejabat publik yang kurang memuaskan.Drajat mengatakan, pejabat di Indonesia sering kali menyampaikan pernyataan kontroversial yang berujung permintaan maaf.
(prf/ega)
Mengapa Influencer Lebih Dipercaya Mengelola Donasi untuk Korban Banjir di Sumatera? Ini Penjelasan Sosiolog
2026-01-11 23:02:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:34
| 2026-01-11 23:17
| 2026-01-11 22:51
| 2026-01-11 21:28
| 2026-01-11 21:02










































