Menteri LH Ungkap Sebab Dahsyatnya Banjir di Sumbar, Tutupan Hutan Tak Sampai 30 Persen

2026-01-12 06:32:53
Menteri LH Ungkap Sebab Dahsyatnya Banjir di Sumbar, Tutupan Hutan Tak Sampai 30 Persen
SEMARANG, - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa bencana banjir yang melanda Sumatera Barat tidak hanya disebabkan oleh hujan ekstrem, tetapi juga oleh minimnya tutupan hutan dan karakter geomorfologi wilayah tersebut.Dalam sambutannya di acara UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 yang berlangsung di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, pada Selasa , Hanif menekankan pentingnya perhatian pemerintah dan akademisi terhadap bencana besar yang melanda Sumatera.Baca juga: Banjir Bandang Susulan di Padang Sumbar, 8 Orang Terjebak dan Dievakuasi Tim SARIa menjelaskan bahwa bagian utara Sumatera Barat terletak di rangkaian Pegunungan Bukit Barisan dengan kondisi lereng yang sangat curam, sementara sisi selatannya langsung berhadapan dengan Laut Hindia.“Ini tentu menjadi perhatian, Sumatera Barat tidak dalam kondisi yang sangat baik. Dengan kapasitas seperti itu, tutupan hutan untuk Provinsi Sumatera Barat kurang dari 30 persen, sementara kawasan hutannya sendiri hanya 38 persen dari 16 DAS yang terdampak. Ini yang kemudian memperparah terjadinya bencana banjir,” kata Hanif.Wilayah Sumatera Barat yang berbatasan dengan Pegunungan Bukit Barisan dinilai berisiko tinggi terhadap bencana.Lebih lanjut, Hanif juga menyoroti perubahan tutupan lahan menjadi ladang oleh masyarakat dan minimnya upaya konservasi yang dinilai memperparah risiko erosi dan banjir.“Kapasitas dari cover-nya atau C-nya sudah sebagian besar berubah ladang-ladang masyarakat. Kemudian tidak ada nilai konservasinya atau nilai P-nya. Sehingga, yang terjadi di Sumatera Barat dengan curah hujan yang cukup sangat tinggi 135 mm, maka terjadi bencana yang cukup besar terutama pada DAS Agam,” ungkapnya.Baca juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir Besar di Sumbar, Menteri LH: 80 Hari Hujan Normal Mengguyur dalam 4 HariKondisi ini menyebabkan bencana besar, terutama di DAS Agam, yang menelan korban jiwa hampir 200 orang.“Kenapa DAS Agam itu menimbulkan korban? Hampir 200 jiwa di daerah situ,” kata Hanif.Dengan pernyataan ini, diharapkan semua pihak dapat lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan berupaya melakukan konservasi untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler