Cahaya di Beranda Sekolah Rakyat: Kala Negara Memeluk Mimpi yang Pernah Terbuang

2026-01-12 00:54:52
Cahaya di Beranda Sekolah Rakyat: Kala Negara Memeluk Mimpi yang Pernah Terbuang
BANDUNG, — Di balik tirai pagi yang luruh di ufuk timur, sebuah gedung sederhana di Sarana Olahraga (SOR) Stadion Si Jalak Harupat (SJH) berdiri sebagai saksi bisu atas rekonsiliasi nasib.Di sana, Sekolah Rakyat bukan sekadar nama, melainkan sebuah pelabuhan bagi jiwa-jiwa kecil yang selama ini berlayar tanpa kompas di samudera kemiskinan.Lantai pualam yang memantulkan bayang-bayang bocah berbaju olahraga hijau dan kuning itu menjadi panggung bagi sebuah perhelatan kemanusiaan. Baca juga: Sekolah Rakyat Berkonsep Boarding Dibangun di Lebak dan PandeglangTidak ada aroma kemewahan, hanya wangi sabun murah dan semangat yang membuncah dari dada-dada yang pernah sesak oleh ketidakpastian.Hari itu, sebuah ritual kesehatan digelar sebagai bukti bahwa kedaulatan bukan hanya milik mereka yang berpunya. Di atas meja kayu yang bersahaja, deretan botol antiseptik dan jarum-jarum halus bersiap memindai kehidupan yang berdenyut di dalam nadi para siswa.Bayu (12), seorang bocah dengan sorot mata sedalam telaga, duduk dengan punggung tegak di hadapan petugas medis yang berbalut seragam putih. Baca juga: Sekolah Rakyat Senilai Rp 502 Miliar di Bengkulu Mulai DibangunIa menatap jarum kecil itu tanpa ngeri, seolah rasa sakit tertusuk ujung baja tak sebanding dengan pedihnya damba yang bertahun-tahun terabaikan."Kalau dulu sakit harus ditahan, paling minum obat warung, sekarang sakit enggak tapi tetep di jaga kesehatannya," bisik Bayu dengan suara yang bergetar lembut, ditemui Kamis .Ketegaran Bayu, mencerminkan kedewasaan yang dipaksa mekar oleh keadaan. Baginya, jaminan kesehatan dari pemerintah adalah selimut hangat di tengah malam yang gigil. Ia mengenang masa-masa ketika pendidikan hanyalah dongeng pengantar tidur yang tak pernah menjadi nyata. Baca juga: Pemkab Lembata Serahkan Lahan 9 Hektar ke Kemensos untuk Pembangunan Sekolah RakyatJaminan yang ia terima kini, mulai dari buku hingga pemeriksaan kesehatan, adalah kemewahan yang dulu hanya berani ia saksikan dari balik kaca etalase kehidupan orang lain."Seneng bisa di rawat kaya gini. Dulu mah enggak kepikiran bisa kaya gini," terangnya senyum. KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Sejumlah murid di Sekolah Rakyat yang berada di salah satu Gedung di SOR Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tengah mengikuti cek kesehatan rutin yang merupakan fasilitas dari Negara, Kamis Di sudut lain, seorang siswi bernama Laras (11) mengamati layar televisi besar yang menampilkan wajah-wajah ceria kawan sejawatnya.  Baginya, teknologi di sekolah rakyat ini adalah jendela ajaib yang meruntuhkan tembok-tembok kusam yang mengurung cita-citanya selama ini.


(prf/ega)