Rights Issue Jumbo Buat Heboh Pasar, Ini Prospek Cerah Saham INET

2026-01-12 08:32:50
Rights Issue Jumbo Buat Heboh Pasar, Ini Prospek Cerah Saham INET
JAKARTA, - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana rights issue jumbo senilai maksimal Rp 3,2 triliun. Aksi korporasi besar ini dinilai membuka peluang pertumbuhan bagi emiten yang bergerak di bisnis infrastruktur digital tersebut. Dalam aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I, INET akan menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham. Rasio rights issue ditetapkan 3:4, sehingga setiap pemegang tiga saham lama berhak atas empat saham baru. Dari total dana yang dihimpun, sekitar Rp 2,8 triliun akan diinvestasikan untuk mempercepat ekspansi jaringan Fiber To The Home (FTTH) berteknologi WiFi-7 melalui anak usaha GPI. Ekspansi itu menargetkan 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok. Sisanya akan dialokasikan untuk pelunasan biaya sewa kabel bawah laut (IRU) serta modal kerja penyelesaian jaringan di Pulau Jawa.Baca juga: Daftar Emiten yang Riuh Rights Issue, Pasar Modal Bersiap Sambut Aksi Jumbo Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai INET berada di posisi strategis karena Indonesia masih sangat tertinggal dalam penetrasi broadband. Tingkat penetrasi fixed broadband rumah tangga di Indonesia baru mencapai 15 persen, jauh di bawah rata-rata Asia Tenggara (ASEAN) yang berada di 53 persen. Kondisi tersebut menandakan ruang ekspansi yang sangat besar, terutama di luar kota-kota utama. Rights issue jumbo ini memungkinkan INET memperkuat posisinya di dua sektor yang sedang tumbuh cepat, yakni submarine cable dan FTTH, dua pondasi penting dalam transformasi digital nasional. Menurutnya, keunggulan INET terletak pada penggunaan teknologi WiFi-7, hasil kolaborasi dengan WIFI IJ. Teknologi ini menawarkan kecepatan jauh lebih unggul dibandingkan layanan operator incumbent, memberikan diferensiasi produk yang signifikan.Baca juga: Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Bakal Tebar Dividen Tunai 50 Persen dari Laba Bersih Selain itu, efisiensi teknologi ini membantu mengurangi risiko perang harga, isu klasik yang selama ini menekan margin operator telekomunikasi. Dengan teknologi terbaru, INET diperkirakan dapat mempertahankan margin yang lebih sehat. MNC Sekuritas memproyeksikan lonjakan kinerja INET dalam dua tahun mendatang. Pendapatan diprediksi melesat dari Rp 123,2 miliar pada 2025 (FY25E) menjadi Rp 916,2 miliar pada 2026 (FY26F). Laba bersih juga diperkirakan melompat tajam dari Rp 13,9 miliar menjadi Rp 281,7 miliar, atau net profit margin (NPM) naik dari 11,3 persen menjadi 30,7 persen. “MNC Sekuritas memperkirakan pendapatan INET akan meningkat signifikan dengan margin yang jauh lebih baik,” tulis riset tersebut, Kamis .Melihat potensi pertumbuhan tersebut, MNC Sekuritas merekomendasikan BUY untuk saham INET dengan target harga Rp 550 per saham. Valuasi ini mencerminkan PE 42,8 kali dan PBV 3,2 kali di tahun buku 2026. Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.


(prf/ega)