Tidak Sengaja Terjun, Kiki Lulusan Kriminolog UI Kini Jadi Pelindung Korban Kekerasan Anak

2026-01-12 18:46:57
Tidak Sengaja Terjun, Kiki Lulusan Kriminolog UI Kini Jadi Pelindung Korban Kekerasan Anak
BATAM, - Rizki Irma Suryani (25), lulusan Kriminologi Universitas Indonesia, tidak pernah membayangkan akan bekerja sebagai pendamping korban kekerasan terhadap anak. Namun sejak bergabung di rumah aman Rumah Faye Batam, Kiki, sapaan akrabnya, kini memikul tanggung jawab mendampingi dan melindungi anak korban kekerasan.Kiki lulus pada 2023 dan sempat kembali ke Batam untuk mengajar les sambil mencari kerja di luar kota."Lulus Januari 2023, awalnya aku balik ke Batam dan mengajar les sembari cari kerja di luar kota. Memang awalnya aku ingin bekerja di luar Batam, sampai mendapat informasi Rumah Faye sedang butuh magang," ujar Kiki saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa .Sejak magang, Kiki kini menjadi staf pendamping khusus. Pekerjaannya membuat lokasi rumah aman harus dirahasiakan, sehingga wawancara dilakukan melalui telepon.Menurut Kiki, kerahasiaan ini penting untuk memberikan rasa aman bagi korban. Keluarganya pun mendukung penuh pekerjaannya dan turut menjaga informasi tersebut."Keluarga sudah memberikan restu bagi aku untuk menjadi pendamping para korban. Mereka bahkan tidak bercerita apapun mengenai kerjaan ke tetangga," katanya.Baca juga: Tegar di Punggung, Lembut di Jemari: Kisah Darsa, Kuli Panggul dari NagregPada awal bekerja, Kiki mengaku gugup, terutama saat mendampingi korban dalam proses persidangan. Ia juga pernah merasa geram ketika mengetahui bentuk kekerasan yang dialami korban."Di lapangan tidak seluruhnya sama dengan yang ada di teori. Banyak sekali aku menemukan hal-hal yang rasanya tidak sesuai dengan yang seharusnya," ujarnya.Kiki menyoroti proses persidangan yang tidak jarang membuat korban kembali bertemu pelaku dalam satu ruangan. Menurutnya, hal ini berpotensi memicu trauma."Diusir dari ruang sidang pernah, proses sidang yang ngaret lama juga pernah. Tapi yang mengganjal itu korban dan pelaku dipertemukan di satu ruang," katanya.Selama dua tahun bekerja, ia juga pernah menghadapi bentuk intimidasi. Ia menyebut kantor Rumah Faye pernah didatangi belasan orang."Beruntung rumah aman dan kantor dua tempat yang berbeda," ujarnya.Meski menghadapi berbagai tekanan, melihat korban kembali tersenyum menjadi kepuasan tersendiri bagi Kiki."Salah satu anak yang saya dampingi sekarang sudah bisa berprestasi di sekolah barunya. Melihat mereka senyum dan bilang makasih rasanya sudah cukup," ucapnya.Di luar tugas sebagai pendamping korban, Kiki bersama rekannya membangun komunitas literasi bernama Chiki Chum. Komunitas ini bertujuan mendorong daya kritis terhadap isu sosial dan kemanusiaan.Kiki juga aktif dalam kegiatan advokasi, termasuk aksi damai menolak pembungkaman pers yang digelar PFI Kepri dan AJI Batam."Kalau media saja yang diatur dalam undang-undang dibungkam, bagaimana dengan individu yang mungkin merasa resah dengan apa yang terjadi ke depan," ujarnya.


(prf/ega)