Presiden AS Donald Trump Kepincut Kei Car Jepang

2026-02-02 03:10:41
Presiden AS Donald Trump Kepincut Kei Car Jepang
TOKYO, – Kei car dikenal sebagai mobil mungil khas Jepang yang dirancang untuk kebutuhan perkotaan yang irit, kompak, dan mudah dikendarai di jalanan sempit.Meski hanya dipasarkan di dalam negeri atau dikenal sebagai JDM (Japan Domestic Market), popularitasnya menembus ke berbagai negara dan bahkan menarik perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.Baca juga: KTM Jajal Mesin 850cc di Tes Privat Jerez“Mereka sangat kecil, sangat lucu, dan saya bilang, ‘Bagaimana kalau mobil seperti ini ada di negara kita?,” ujar Trump dikutip dari Carscoops, Senin .Dok. Antara Mitsubishi Kei Car ini perlu dicas paling tidak 8 jam sampai penuh.Trump menyatakan keinginannya agar kei car bisa masuk secara resmi ke pasar Amerika Serikat setelah ia melakukan kunjungan ke Jepang dan melihat langsung kendaraan tersebut.Ia kemudian diberi penjelasan bahwa kei car tidak memenuhi standar uji tabrak di AS, sehingga tidak dapat dipasarkan secara resmi.Namun, Trump justru melihat regulasi itu sebagai penghalang utama. Ia lantas memberikan tugas untuk mencari cara agar kei car bisa masuk ke pasar Amerika Serikat.Baca juga: Upgrade Setir Mobil: Modifikasi Ringan yang PopulerAFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam pertemuan kabinet di Gedung Putih, Washington DC, 2 Desember 2025.Para analis otomotif di AS menjelaskan bahwa kei car di Jepang diatur dengan regulasi yang sangat ketat, mulai dari panjang, lebar, hingga kapasitas mesin yang dibatasi maksimal 660 cc.Kemudian dari sisi dimensi, tinggi kei car bahkan hampir tidak lebih besar dari diameter ban truk ukuran penuh di Amerika.Di Jepang, kei car cocok digunakan di tengah padatnya Tokyo agar mudah parkir dan lincah bermanuver. Namun ketika disandingkan dengan pikap besar yang umum digunakan di AS akan terlihat kontras.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 02:48