Kisah Minah Hidup di Rumah Sepetak dan Gang Gelap Jakarta

2026-02-08 02:41:56
Kisah Minah Hidup di Rumah Sepetak dan Gang Gelap Jakarta
JAKARTA, - Laju pembangunan Jakarta yang pesat menjadi magnet bagi warga dari berbagai daerah untuk mencoba peruntungan.Deretan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan megah, gemerlap hiburan malam, hingga peluang kerja yang beragam seolah mudah dijumpai di setiap sudut kota.Jalan-jalan lebar, kawasan hunian elite, serta apartemen modern menjadi bagian dari wajah Jakarta yang sering dipertontonkan.Namun di balik kemilau tersebut, Jakarta menyimpan sisi lain yang kerap luput dari perhatian.Baca juga: Jerit Hati Para Anak Fatherless: Kehilangan Sosok Ayah Sangat BeratDi tengah kota, lorong-lorong sempit masih menjadi ruang hidup sebagian warganya.Gang-gang yang lebarnya tak sampai satu meter memaksa orang yang melintas untuk menyesuaikan langkah, bahkan memiringkan badan.Kondisi itu tampak jelas di sebuah permukiman Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Penampakan gang menuju permukiman warga di RT 07 RW 02 Kampung Rawa Johar Baru Jakarta Pusat Di Kampung Rawa, salah satu gang tampak gelap sepanjang hari, nyaris tanpa sentuhan cahaya.Seolah sinar matahari tak mampu menembus rapatnya bangunan di kanan dan kiri lorong.Deretan rumah saling berhadapan dengan jarak yang amat sempit, bahkan setiap orang harus melaju perlahan untuk bisa melintas. Ruang gerak nyaris tak tersisa.Aroma lembap tercium di sepanjang gang akibat minimnya pencahayaan dan sirkulasi udara.Banyak pintu rumah dibiarkan terbuka, menjadi satu-satunya cara agar angin bisa masuk ke dalam ruangan.Dari lorong itu, aktivitas penghuni rumah petak dapat terlihat dengan mudah.Kehidupan berlangsung dalam jarak yang sangat dekat.Baca juga: Di Balik Gedung Pencakar Langit, Kampung Kebon Melati Bertahan dengan Ruang HijauDi salah satu rumah sepetak berukuran 3x4 di gang tersebut, Minah, perempuan berusia 54 tahun, menjalani hidupnya.Rumah itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan saksi perjalanan hidupnya sejak muda hingga kini.Ruang sempit dengan dinding yang sebagian masih menumpang bangunan tetangga itu telah menjadi bagian dari identitasnya sebagai warga kota yang bertahan di tengah keterbatasan.Dinding rumah dengan cat yang mulai pudar membingkai ruang tinggal tersebut.Di tempat sederhana itulah ia beristirahat, berdiam, sekaligus menghabiskan waktu luangnya.Minah bukan pendatang baru di permukiman tersebut. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan itu.Namun, rumah yang kini ditempatinya bukanlah rumah masa kecil yang luas dan lapang.Tempat tinggalnya sekarang adalah hasil dari keputusan pahit yang harus diambil keluarganya puluhan tahun lalu.Saat itu, Minah masih berusia belasan akhir menuju dua puluhan.Keluarganya menghadapi situasi darurat ketika sang ibu harus dirawat di rumah sakit.Di masa itu, jaminan kesehatan belum tersedia seperti sekarang.Baca juga: 1.392 Personel Gabungan Dikerahkan Jaga Demo Buruh di JakartaBiaya pengobatan menjadi beban besar yang tak terelakkan.“Saya di sini udah dari lahir. Dari rumah saya yang ke depan tuh, ibu kan dirawat, kan gak pake BPJS kan dulu. Jadi itu buat nebus ibu dijual nih rumahnya yang depan Jadi saya nempatin ini segini sepetak," ujar dia saat ditemui Kompas.com, Jumat ./HAFIZH WAHYU DARMAWAN Salah satu rumah warga yang tinggal di dalam gang sempit di RT 07 RW 02 Kampung Rawa, Johar Baru Jakarta Pusat Keputusan menjual rumah yang lebih layak menjadi titik balik dalam hidup Minah.Sejak saat itu, ia menetap di rumah sepetak yang kini ia huni.Rumah kecil tersebut menjadi tempat bertahan, tumbuh dewasa, dan menua bersama anak-anaknya.Seiring waktu, usia Minah bertambah, tetapi tempat tinggalnya tak pernah berubah.Ia tetap tinggal di rumah yang sama, tak berpindah, tanpa memiliki pilihan lain yang lebih baik.Sejak usia muda hingga kini, Minah menjalani hidupnya di ruang yang sama.Baca juga: Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari RumahIa dan rumah tersebut menjadi satu-satunya tempat yang ia anggap aman untuk bertahan.“Waktu itu saya masih umur 20 tahun. Berarti udah 34 tahun tahun saya di sini, waktu belum punya suami," kata dia.Puluhan tahun berlalu, gang semakin padat, bangunan semakin tinggi, dan ruang hidup Minah kian terjepit. Namun, Minah tetap bertahan di tempat itu.Pada awalnya, rumah sepetak itu dihuni Minah bersama kedua orang tuanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-08 02:09