Badan Geologi Petakan Zona Rawan Gerakan Tanah di Kabupaten Bandung, 27 Daerah Kategori Menengah–Tinggi

2026-02-01 17:40:33
Badan Geologi Petakan Zona Rawan Gerakan Tanah di Kabupaten Bandung, 27 Daerah Kategori Menengah–Tinggi
BANDUNG, - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebagai zona berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah.Dari hasil pemantauan, sedikitnya 27 kecamatan masuk dalam kategori potensi menengah hingga tinggi, sebagian di antaranya juga berisiko dilanda banjir bandang.Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyebutkan, pemetaan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang meningkat seiring tingginya intensitas curah hujan."Wilayah dengan potensi gerakan tanah ini perlu mendapat perhatian serius, terutama saat curah hujan di atas normal. Lereng-lereng yang telah mengalami gangguan berpotensi mengalami longsor, bahkan longsoran lama bisa aktif kembali," kata Lana melalui keterangan tertulis, Senin .Baca juga: Longsor Arjasari Bandung: 4 Warga Jadi Korban, 3 Masih Tertimbun Material Lereng SinapeulSejumlah kecamatan yang masuk dalam zona potensi menengah–tinggi antara lain Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Kutawaringin, Margaasih, Nagreg, Pacet, Pameungpeuk, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, Rancabali, dan Soreang.Sementara itu, Kecamatan Majalaya masuk dalam kategori potensi menengah gerakan tanah.Badan Geologi juga mencatat sejumlah wilayah memiliki potensi banjir bandang dan aliran bahan rombakan, terutama di Arjasari, Banjaran, Cangkuang, Cimaung, Cimenyan, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Majalaya, Pasirjambu, Rancabali, dan Soreang.Lana menjelaskan, zona potensi menengah merupakan wilayah yang dapat mengalami gerakan tanah jika dipicu hujan dengan intensitas tinggi, terutama di area sekitar lembah sungai, tebing jalan, gawir, dan lereng yang tidak stabil."Adapun zona potensi tinggi memiliki risiko lebih besar karena pergerakan tanah dapat terjadi lebih cepat dan longsoran lama berpotensi aktif kembali," ujarnya.Baca juga: Badan Geologi Ungkap Penyebab Longsor Arjasari Bandung: Lereng Curam dan Curah Hujan TinggiIa juga mengingatkan tim gabungan pencarian dan pertolongan (SAR) agar mengutamakan keselamatan personel.Petugas diminta menghentikan pencarian saat hujan deras maupun sesaat setelahnya karena lereng di sekitar lokasi masih berpotensi longsor.Untuk rumah-rumah warga yang rusak berat akibat tertimbun material longsor, Badan Geologi merekomendasikan relokasi permanen ke wilayah yang dinilai aman dari ancaman gerakan tanah.Selain itu, pemerintah daerah didorong memasang rambu-rambu peringatan rawan longsor dan menyiapkan jalur evakuasi di sekitar lokasi terdampak."Patuhi seluruh arahan petugas dan lakukan pemantauan rutin agar potensi gerakan tanah dapat terdeteksi lebih dini," kata Lana.Sebelumnya, bencana longsor terjadi di Kecamatan Arjasari, pada Jumat lalu.Longsor itu mengakibatkan lima rumah rusak berat dan sekitar 100 rumah terdampak.Satu korban berhasil diselamatkan, yakni Ramdan (15).Korban mengalami luka di bagian kepala dan saat ini dirawat di RS Nambo.Sementara tiga korban lainnya, Aisyah (70), Citra (19), dan Alfa (15) masih dalam pencarian.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-01 16:46