TABANAN, - Petani kakao mungkin belum menjadi mata pencaharian yang populer di Indonesia. Padahal batang kakao relatif bisa hidup di banyak daratan Indonesia.Komoditas kakao ini juga memiliki potensi yang besar mengingat besarnya permintaan global akan produk olahan kakao.Salah satu upaya untuk mendorong komoditas kakao bersinar hadir dari kelompok petani yang ada di Jembrana, Bali.Gede Suartama (60) adalah salah satu penggagas dari Kelompok Tani Kakao Cipta Gemilang yang berada di Desa Ekasari, Kecamatan Malaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.Baca juga: Kembangkan Industri Kakao, Cau Chocolates Buka Peluang Melantai di Bursa Bersama dengan adik sepupunya, ia membentuk kelompok tani kakao untuk meningkatkan taraf hidupnya.Kelompok ini telah berdiri sejak 2017, tetapi baru sejak 2019 petani menemukan pijakan untuk dapat menjadi petani kakao yang punya hasil panen lebih baik.Adik sepupunya yang bernama I Ketut Pas Gunawa kini menjadi ketua dari Kelompok Tani Kakao Cipta Gemilang.Bermodalkan keberanian untuk memiliki penghidupan yang lebih baik, Gede yang sebelumnya adalah seorang buruh harian lepas dengan tiga anak mantap melangkah menjadi petani kakao.Penghasilan yang tidak menentu membuat ia menjajal peruntungan baru di bidang pertanian kakao./ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Ilustrasi biji kakaoSaat ini, ia telah berhasil mengirim anaknya untuk kuliah ke universitas. Tak hanya itu, salah satu menantunya juga sekarang mengeluti kakao sebagai mata pencaharian.Ia memulai memutuskan menjadi petani kakao dengan luas tanah 40 are. Dengan luas tanah di bawah setengah hektare itu, ia memiliki sekitar 250 batang kakao.Pada mulanya, ia menceritakan, banyak pihak yang memberikan upaya pelatihan hingga penyuluhan kepada petani.Namun demikian, hal tersebut tidak langsung menggugah semangat petani untuk fokus menghasilkan biji kakao yang diterima oleh standar internasional.Baca juga: Mentan Amran Penuhi Berapapun Permintaan Bibit Kakao untuk SabangPenyuluhan dan pelatihan memang membuat petani memiliki ketrampilan untuk menghasilkan biji kakao yang berkualitas dan memenuhi kualifikasi industri. Namun, petani juga membutuhkan kepastian pembeli (offtaker) dengan hasil produksi yang ada."Waktu belum ada yang penjamin pembelian, petani juga kurang yakin dan semangat untuk bertani kakao ini," kata dia ketika ditemui di kawasan produksi Cau Chocolates, Kabupaten Tabanan, Bali.Hal tersebut lantas dijawab dengan kehadiran Cau Chocolates yang memberikan harga tinggi kepada petani yang mampu menghasilakan biji kakao berkualitas.Saat ini, Cau Chocolates membeli biji kakao kering dari petani dengan harga Rp 100.000 per kilogram.Harga ini bahkan relatif lebih tinggi dari harga pasaran kakao dunia. Saat ini, harga kakao dunia berkisar di level Rp 85.000 per kilogram.Dengan harga tersebut, seorang petani bisa mengantongi sebanyak Rp 8 juta dalam satu pekan.
(prf/ega)
Asa Petani Kakao, Tingkatkan Taraf Hidup Lewat Nikmat Produk Cokelat
2026-01-12 05:39:00
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:50
| 2026-01-12 04:51
| 2026-01-12 04:48
| 2026-01-12 04:06










































