Kini Ditangkap BNN, Dewi Astutik Buron Sabu Rp 5 T Sering Berganti Penampilan

2026-01-15 09:19:53
Kini Ditangkap BNN, Dewi Astutik Buron Sabu Rp 5 T Sering Berganti Penampilan
Dewi Astutik alias PA (43) ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Interpol dan BAIS di Kamboja terkait kasus penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun. Dewi dikenal warga sebagai wanita yang kerap berganti penampilan.Hal itu terungkap dari kesaksian tetangga sekaligus saksi mata, Mbah Misiyem, warga Dukuh Sumber Agung. Gaya Dewi disebut sering berubah-ubah."Awalnya rambutnya pendek, tapi sering berubah-ubah," kata Mbah Misiyem seperti diberitakan detikJatim pada 30 Mei 2025.Berdasarkan penuturan Mbah Misiyem, Dewi sempat pamit akan bekerja ke Kamboja setelah Lebaran 2023. Dia beralasan ingin bekerja di luar negeri karena bingung di rumah tidak memiliki pekerjaan tetap."Waktu itu pamitnya habis Lebaran, bilangnya mau kerja ke Kamboja. Saya sempat tanya, kok jauh sekali, dia jawab di rumah nggak ada kerjaan. Saya juga tanya suaminya ditinggal gimana, dia bilang nggak apa-apa," imbuh Misiyem.Sebelum berangkat ke Kamboja, Dewi diketahui sempat bekerja puluhan tahun di Taiwan. Dia pulang sebentar ke rumah di Ponorogo sebelum akhirnya berangkat ke Kamboja dengan alasan pekerjaan."Liburnya cuma sebulan di rumah, terus berangkat lagi," kata Mbah Misiyem.Dewi Astutik sebelumnya ditangkap setelah masuk daftar buron Interpol dalam kasus penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun. Dewi ditangkap di Kamboja.Berdasarkan informasi yang didapatkan detikcom, Selasa (2/12/2025), Dewi akan diterbangkan ke Indonesia hari ini. Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto menjemput langsung buron tersebut.Belum ada penjelasan detail mengenai penangkapan Dewi. BNN segera menggelar jumpa pers mengenai kasus Dewi begitu tiba di Indonesia.Simak juga Video: Penghargaan Detikcom Awards 2025 untuk Komitmen Anti-Narkotika Kepada Kepala BNN[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-15 07:41