Napas Terengah di Stasiun Kampung Bandan, Penumpang Berjuang Taklukan Tangga yang Curam

2026-01-12 06:13:42
Napas Terengah di Stasiun Kampung Bandan, Penumpang Berjuang Taklukan Tangga yang Curam
JAKARTA, - Setiap hari, para penumpang KRL di Stasiun Kampung Bandan, Jl. Mangga Dua VIII No.16, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, harus naik turun tangga manual yang menjadi satu-satunya akses menuju peron atas dan bawah.Di stasiun lama yang melayani rute ke Jakarta Kota, Tanjung Priok, Angke, Duri, hingga Bekasi dan Cikarang itu, fasilitas berupa lift maupun eskalator belum tersedia sejak pertama kali dibangun.Pengamatan Kompas.com di lokasi, Selasa , menunjukkan arus penumpang yang padat berpindah antarperon. Beberapa di antaranya terlihat terengah-engah setelah menjejaki puluhan anak tangga.Baca juga: Trotoar Cikini Dikuasai PKL dan Parkir Liar, Pejalan Kaki Terusir ke Badan Jalan/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Kondisi akses dan peron Stasiun Kampung Bandan yang masih menggunakan tangga manualMereka yang membawa anak, lansia, atau koper besar harus berhenti sejenak di tepi jalur, menarik napas, kemudian melanjutkan langkah perlahan.Di tengah kondisi tersebut, cerita para penumpang menunjukkan bahwa naik-turun tangga di stasiun ini menjadi perjuangan harian.Santo (60), salah satu penumpang KRL, tampak menuruni tangga peron atas dengan perlahan.Rambutnya yang sudah memutih terlihat jelas, sementara di tangannya ia membawa kantong plastik berisi beberapa barang belanjaan dari pasar.“Kalau naik tangga di sini memang harus hati-hati. Saya ini sudah tua, otot-otot sudah beda,” katanya sambil tertawa kecil saat ditemui Kompas.com, Selasa.Setiap hari, Santo berangkat dari Stasiun Kampung Bandan untuk menuju tempat kerjanya di Angke, Jakarta Barat. Ia mengaku sudah terbiasa dengan kondisi tangga, tetapi tubuhnya tidak lagi sekuat dulu.“Tadi saya sampai harus pegangan kuat di tulang tepi tangga, biar nggak goyang,” ujarnya.Menurut Santo, kondisi stasiun saat ini seharusnya sudah bisa diperbarui. Terlebih, ia pernah melihat beberapa lansia hampir jatuh.“Kasihan yang sudah sepuh-sepuh. Kalau tersandung sedikit bisa bahaya,” katanya.Baca juga: Jadi Sisa Kejayaan VOC, Kasteel Batavia Kini Terkubur di Antara Truk dan SampahMeski demikian, ia tetap bersyukur masih bisa naik turun tangga seorang diri tanpa ada yang membantu.“Tapi ya kalau bisa ada lift sih lebih bagus. Saya juga manusia, tenaganya ada batasnya,” ucapnya sambil melanjutkan langkah.Penumpang lain, Bibah (63), berdiri di tepi peron bawah sambil memegangi pegangan besi. Napasnya masih tampak berat setelah menuruni tangga curam yang menghubungkan peron atas dan bawah.Ia mengenakan kerudung biru muda, tas selempang kecil, dan tangannya masih sedikit bergetar.“Dari dulu jalurnya begini terus, harus naik turun tangga tinggi,” ujarnya membuka percakapan.Bibah mengaku sudah bertahun-tahun berangkat dari Stasiun Kampung Bandan, terutama ketika hendak ke rumah anaknya di daerah Duri, Jakarta Barat.Saat ditanya apakah ketiadaan eskalator atau lift menyulitkannya, Bibah langsung mengangguk.“Jujur saja iya. Saya kalau naik begini sering berhenti dulu karena napas suka pendek. Tangganya tinggi, banyak juga. Kalau lagi ramai tambah susah karena harus ikut arus orang,” kata dia sambil sesekali mengusap dahinya yang berkeringat./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Semua penumpang di Stasiun Kampung Bandan hanya mengandalkan tangga manual. Hari itu, Bibah tidak sendirian. Ia ditemani putranya, Fauzi (36). Meski demikian, ia tetap berjalan perlahan di tangga.“Kalau sendiri, saya lebih pelan jalannya. Kalau ada dia, ya lumayan dibantuin,” ucapnya.Baca juga: 18 Tahun Menara Saidah Terbengkalai, Cermin Mandeknya Penataan Ruang Kota Jakarta?Bibah mengenang momen ketika ia hampir kehilangan keseimbangan beberapa tahun lalu. Saat itu, kepadatan penumpang membuatnya terdesak di tengah arus naik.


(prf/ega)