Sinyal Kembali Menyala, Warga Aceh Tamiang Kembali Terhubung dengan Keluarga

2026-02-03 21:58:59
Sinyal Kembali Menyala, Warga Aceh Tamiang Kembali Terhubung dengan Keluarga
- Pemulihan jaringan base transceiver station (BTS) di Aceh Tamiang menjadi penanda awal kembalinya aktivitas warga pascabencana banjir dan longsor. Dengan kembali berfungsinya jaringan BTS, warga dapat menghubungi keluarga, mengakses informasi, serta kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, penyaluran bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak pun menjadi lebih lancar.Bagi Fariani, seorang ibu rumah tangga di Aceh Tamiang, pulihnya sinyal BTS menjadi perubahan paling nyata setelah bencana melanda.Kini, ia kembali dapat berkomunikasi dengan keluarga sekaligus mengetahui kondisi di luar wilayah terdampak.“Alhamdulillah, senang sekali ada sinyal. Jadi bisa menghubungi keluarga, anak yang jauh-jauh. Tadinya seperti orang bingung, mau ke mana-mana enggak tahu. Jadi alhamdulillah sekali,” ungkap Fariani dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin .Baca juga: Jaga Data Warga, Komdigi Perkuat Pengawasan dan Kepatuhan Pelindungan Data PribadiHal itu Fariani ungkapkan kepada Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat kunjungan ke Aceh Tamiang, Minggu .Fariani berharap, kualitas jaringan telekomunikasi dapat terus dijaga agar komunikasi warga tetap stabil ke depan.“Harapannya ke depan lebih baik, bisa terus diperbaiki sinyalnya,” ujarnya.Sementara itu, Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi sejalan dengan instruksi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengembalikan layanan publik dan konektivitas di wilayah terdampak bencana hingga akhir 2025.“Tugas kami memastikan koneksi internet dan seluler kembali pulih. Karena itu, kami bersama mitra hadir untuk memastikan setiap tugas dapat berjalan maksimal. Targetnya, pulih sebelum tahun berganti,” tegas Meutya.Baca juga: Komdigi Kirim 118 Tangki Air Bersih Hingga Bangun 33 Sumur Bor untuk Percepatan Pemulihan AcehAdapun Meutya bersama perwakilan operator seluler Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart turut meninjau sejumlah menara BTS terdampak untuk memastikan proses pemulihan terus berlangsung di lapangan.Dia mengapresiasi perkembangan pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh Tamiang yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.“Tadi kami melihat warga sudah bisa melakukan panggilan video dan membaca berita. Akses informasi menjadi hal yang sangat penting dalam proses pemulihan bencana,” kata Meutya.Dia berharap, jaringan seluler di wilayah tersebut dapat tetap stabil hingga tahun depan dan seterusnya.Bagi warga Aceh Tamiang, pulihnya jaringan BTS bukan sekadar tersedianya sarana komunikasi, melainkan juga menjadi simbol awal bangkitnya kehidupan pascabencana.Baca juga: Kirim 100 Genset, Komdigi Ajak Bersatu Bantu Masyarakat Terdampak Bencana Sumatera


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 21:08