Museum Louvre Lewat, China Selidiki Skandal Pencurian Harta Nasional Terbesar

2026-01-12 16:46:30
Museum Louvre Lewat, China Selidiki Skandal Pencurian Harta Nasional Terbesar
BEIJING, - Otoritas China menyelidiki dugaan pencurian artefak budaya secara besar-besaran di Museum Nanjing, salah satu yang terkemuka di "Negeri Panda".Penyelidikan itu dilakukan setelah muncul laporan bahwa staf internal diduga menjual harta nasional tersebut secara diam-diam ke pasar seni.Kasus ini menjadi sorotan publik karena skala dugaan kejahatannya dinilai luar biasa.Baca juga: 400 Pegawai Museum Louvre Marah dan Mogok Kerja, Ribuan Pengunjung Tak Bisa MasukOleh beberapa warganet, kasus itu bahkan disebut membuat aksi pencurian di Museum Louvre, Paris, terlihat tidak ada apa-apanya, sebagaimana dilansir SCMP, Selasa .Skandal tersebut mencuat ke permukaan ketika sebuah lukisan abad ke-16 muncul dalam katalog rumah lelang di Beijing pada Mei 2025. Padahal, karya itu tercatat sebagai bagian dari koleksi museum negara.Lukisan berjudul Spring in Jiangnan karya Qiu Ying dari era Dinasti Ming itu ditaksir memiliki nilai sekitar 88 juta yuan atau setara Rp 209 miliar.Karya seni tersebut diketahui merupakan bagian dari 137 lukisan yang disumbangkan pada 1959 oleh keluarga kolektor ternama Pang Laichen.Baca juga: Museum Louvre Paris Tutup, Ada Apa?Lukisan tersebut juga sempat menjadi objek gugatan hukum oleh keturunannya pada tahun lalu.Dalam pemeriksaan pengadilan, lima karya dari koleksi sumbangan tersebut dinyatakan hilang, sehingga cicit Pang Laichen, Pang Shuling, melaporkan kasus ini kepada aparat berwenang dan meminta klarifikasi resmi dari pihak museum.Penjualan lukisan tersebut akhirnya dibatalkan setelah keluarga Pang melayangkan protes keras terhadap rumah lelang.Pekan lalu, Museum Nanjing menyampaikan kepada kantor berita Xinhua bahwa lukisan tersebut dan empat karya lain telah dinyatakan sebagai tiruan dalam proses verifikasi pada 1961 dan 1964.Baca juga: Kondisi Kerja Memburuk, Pekerja Museum Louvre Bakal Lakukan Mogok KerjaPihak museum mengeklaim, karya itu dikeluarkan dari koleksi resmi pada 1997 lalu dipindahkan ke toko peninggalan budaya provinsi.Karya itu lalu dijual seharga 6.800 yuan atau sekitar Rp 16 juta pada 2001 kepada pembeli yang tidak diketahui.Namun, pihak museum tidak dapat menjelaskan bagaimana karya tersebut kemudian muncul kembali di pasar lelang dengan nilai puluhan juta yuan.Pang Shuling pun menyoroti sejumlah kejanggalan dokumen serta minimnya komunikasi dengan keluarga penyumbang.


(prf/ega)