JAKARTA, — Di tengah perubahan geopolitik dan dorongan global menuju energi lebih bersih, gas kini menempati posisi strategis bagi Indonesia. Energi ini bukan hanya membantu menjaga ketahanan domestik, tetapi juga memperkuat peran Indonesia dalam peta energi dunia. Hal itu disampaikan Executive Director Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong saat berkunjung ke Kompas.com untuk sesi Naratama bersama Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, beberapa waktu lalu. Pembahasan mengalir dari posisi strategis gas, tantangan eksplorasi, integrasi kebijakan, hingga teknologi baru seperti CCS/CCUS. Berikut rangkuman lengkapnya.Baca juga: IPA Convex 2026 Siap Digelar, Perkuat Kolaborasi Menuju Energi BerkelanjutanKetika ditanya soal mana yang lebih strategis antara gas dan minyak dalam konteks geopolitik global, Marjolijn, yang akrab disapa Meiti, menegaskan bahwa momentum gas saat ini jauh lebih kuat.“Gas kita pada masa transisi ini sangat dibutuhkan karena lebih bersih dibanding minyak,” ujarnya.Marjolijn menekankan bahwa Indonesia justru berada pada posisi beruntung karena masih menyimpan potensi gas yang besar. “Ini bukan sisa, tapi remaining potential yang bisa dimanfaatkan,” katanya. Menurut dia, dunia tetap melihat Indonesia sebagai pemain penting dalam energi gas.Baca juga: IPA Conpex 2025: Pemerintah Lelang 3 WK Migas, Potensi 2,2 Miliar Barrel Setara MinyakSelanjutnya, menjawab pertanyaan tentang strategi eksplorasi dan produksi gas, Marjolijn mendorong agar Indonesia tidak setengah-setengah.“Indonesia harus mengeksplorasi dan memproduksi gas secara maksimal,” ujarnya.Kuncinya adalah fleksibilitas: gas harus cukup untuk kebutuhan domestik, tetapi sebagian juga perlu diekspor untuk menjaga kepercayaan pasar internasional. “Kita harus bisa menentukan berapa untuk dalam negeri dan berapa untuk pasar luar,” jelasnya.Baca juga: Pengamat: Co-Firing Dorong Transisi Energi dan Penguatan Ekonomi RakyatNamun, eksplorasi gas tidak bisa disamakan dengan minyak. Menjawab pertanyaan perbandingan tantangan keduanya, Marjolijn memberi gambaran teknis yang jelas“Gas itu unik. Tidak semudah minyak untuk dibawa ke pasar,” katanya.Pertanyaan utama dalam eksplorasi gas adalah tujuan akhirnya: “Ini gas mau dibawa ke mana?Jika produksi berskala kecil dan tidak ada infrastruktur pipa, keekonomiannya bisa jatuh. Karena itu, transportasi dan ketersediaan pasar harus diperhitungkan sejak awal.Baca juga: PLTN Jadi Opsi Strategis Transisi Energi, Pendanaan Jadi TantanganDalam pertanyaan berikutnya, apakah pemerintah dapat merencanakan kawasan penghasil gas, ia menegaskan perlunya integrasi lintas sektor.“Pemerintah perlu memikirkan daerah-daerah berpotensi besar dan kemungkinan membangun industri di sekitarnya,” ujar Marjolijn.Gas Indonesia tersebar di banyak lokasi dan tidak selalu dekat dengan industri. Ada pula gas yang masih dalam bentuk spark, yang belum siap diekologisasi dan membutuhkan penanganan khusus.
(prf/ega)
Menelisik Arah dan Strategi Gas RI di Masa Transisi Energi, ala IPA
2026-01-12 04:12:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:40
| 2026-01-12 02:46
| 2026-01-12 02:38
| 2026-01-12 02:13
| 2026-01-12 01:52










































