Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak

2026-01-13 16:48:30
Psikolog Ungkap 4 Faktor yang Menyebabkan Game Online Picu Perilaku Kekerasan Anak
- Ada beberapa kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak terjadi akibat pengaruh dari game online.Misalnya peristiwa seorang anak laki-laki (9) yang nekat membakar belasan rumah warga di Desa Tipar, Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Mei 2025.Aksi ini diduga dipicu oleh pengaruh tontonan film dan adegan dalam game online yang kemudian ditiru oleh anak tersebut.Baca juga: Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh Game Online ke PerilakuTerbaru, pada Rabu lalu, seorang anak (12) melukai ibunya yang sedang tidur menggunakan pisau di Medan Sumatera Utara, sehingga berujung meninggal dunia.Menurut keterangan polisi, salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.Baca juga: Bukan “Game”, Pelaku Ledakan SMAN 72 Terlibat Dark Web dan Komunitas KekerasanMeski demikian, peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi bukan semata-mata hanya terjadi karena game online. Melainkan juga karena faktor kerentanan lainnya.Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa .Baca juga: Anak Bunuh Ibu di Medan akibat Game Online, Ini Kata PsikologGame bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan perubahan perilaku. Itu sebabnya dari jutaan anak bermain game kekerasan, hanya segelintir yang bertindak ekstrem.Danti menjelaskan beberapa faktor dinamika psikologis di baliknya, yakni:Pada usia 12 tahun, bagian otak prefrontal cortex (pusat kendali impuls, logika, dan konsekuensi) belum matang sempurna. Sementara itu, sistem limbik (pusat emosi) sedang sangat aktif.Ketika emosi memuncak dan merasa marah, anak tidak mampu berpikir panjang tentang konsekuensi perbuatannya.Baca juga: Soal Pembatasan Game PUBG, Komdigi Tidak Akan Bertindak SendiriGame online dirancang untuk memberikan dopamin secara terus-menerus. Jika seorang anak sudah mengalami adiksi, game tersebut bukan lagi sekadar hiburan, melainkan kebutuhan emosional.Ada efek sakau, menghapus atau melarang game secara tiba-tiba pada anak yang sedang adiksi bisa memicu reaksi kemarahan yang luar biasa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-13 16:09