Sopir Ojol Kabur Usai Kecelakaan Tabrak Truk, Penumpangnya Meninggal

2026-02-02 08:44:11
Sopir Ojol Kabur Usai Kecelakaan Tabrak Truk, Penumpangnya Meninggal
Jakarta - Pengemudi ojek online (ojol) dicari polisi. Dia diduga kabur setelah terlibat kecelakaan. Mirisnya, penumpang yang menjadi korbannya justru dibiarkan tergeletak di jalan depan Gedung MPR/DPR, Jakarta."Ini DPO Polri, pengemudi Maxim yang meninggalkan korban atau penumpangnya laka lantas," kata Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Ojo Ruslani dalam keterangannya, Senin .Insiden kecelakaan itu terjadi pada Senin sekira pukul 05:00 WIB. Saat itu, pengemudi mengendarai motor Honda Beat sambil membawa penumpang melintas di Jalan Gatot Subroto arah barat.AdvertisementSesampainya di depan gerbang masuk Gedung DPR/MPR, motor yang dikemudikannya menghantam truk yang sedang parkir di pinggir jalan.Insiden mengakibatkan seorang penumpang sampai tak sadarkan diri. Alih-alih menolong, pengemudi ojol itu justru meninggalkan korban begitu saja. Aksinya terekam jelas oleh kamera CCTV milik Diskominfo DKI Jakarta."Berdasarkan rekaman CCTV dari Diskominfo DKI, bahwa kendaraan Honda Beat menabrak kendaraan truk. Setelah terjadi kecelakaan, pengemudi Honda Beat meninggalkan penumpangnya yang tergeletak di jalur 2. Kecelakaan di depan Gedung DPR Ri hari Senin 20 Oktober 2025 jam 5an," papar Ojo.Ojo menerangkan, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pelni. Selama sepekan mendapat perawatan, nyawanya tak tertolong."Korban meninggal dunia," ujar dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-02 08:21