Percepat Pemulihan Aceh Utara, 1.000 Prajurit TNI Dikerahkan Bersihkan Lumpur Sisa Banjir

2026-02-04 09:14:13
Percepat Pemulihan Aceh Utara, 1.000 Prajurit TNI Dikerahkan Bersihkan Lumpur Sisa Banjir
ACEH UTARA, – Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi dan Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil menggelar rapat percepatan pembersihan sisa lumpur karena banjir di Pendopo Bupati Aceh Utara, Rabu .Dalam rapat itu disebabkan BNPB meminta satu batalyon atau sekitar 1.000 prajurit untuk masuk ke Kabupaten Aceh Utara untuk mempercepat proses pembersihan lumpur bekas banjir. “Kita minta agar ada koordinator yang ditunjuk BNPB untuk mengomandoi pembersihan. Kadis Lingkungan Hidup dan Kebersihan Aceh Utara, Saifullah, anggotanya jumlahnya sikit (sedikit), agar pembersihan cepat bisa dilakukan,” terang Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil.Baca juga: Bupati Aceh Utara Ayahwa Tegas: Pejabat yang Liburan Akhir Tahun Bisa Disanksi!Dia menyebutkan pembersihan sisa banjir untuk segera mengerakan roda ekonomi, pemerintahan, pendidikan dan kesehatan di Aceh Utara. “Tujuan kita semua sama, agar ini bisa kita percepat. Ini sudah 22 hari, kita maksimal bekerja, namun masih belum menjangkau pembersihan seluruhnya,” terang pria akrab disapa Ayahwa ini.Sementara Tenaga Ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi menyebutkan penanggungjawab pasukan yang hadir ada komandan yang memimpinnya.Baca juga: Update Data Banjir Aceh Utara, Korban Meninggal 166 Orang, Ribuan Rumah Rusak Berat“Untuk lokasi sampah dipindah kemana, lumpur dipindah kemana, itu pemerintah daerah yang menunjukan tempatnya. Pasukan bergerak untuk mempercepat membantu pemulihan,” katanya.Dia menyebutkan operasi yang sama dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang.“Di Aceh Tamiang ada dua batalyon tentara dari luar Aceh sekarang untuk pembersihan. Aceh Utara satu batalyon,” terangnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 07:21