Prabowo Temui Korban Banjir di Tapanuli Tengah: Mereka Masih Syok

2026-01-12 14:19:51
Prabowo Temui Korban Banjir di Tapanuli Tengah: Mereka Masih Syok
Jakarta Presiden Prabowo Subianto meninjau korban terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Senin , di mana dia sempat bercengkrama di sana."Tentunya mereka masih dalam kondisi syok. Saya kira pemerintah sudah berbuat yang terbaik," kata Prabowo di Bandara Sisingamangaraja XII Silangit, Sumatra Utara, Senin .Dia bersyukur saat ini cuaca di Pulau Sumatra sudah membaik. Prabowo menuturkan pemerintah saat ini memprioritaskan pendistribusian bantuan ke lokasi bencana, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan listrik yang sangat vital.Advertisement"Kita sekarang prioritas bagaimana bisa segera kirim bantuan-bantuan yang diperlukan terutama BBM yang sangat penting, listrik sebentar lagi saya kira bisa dibuka semuanya. BBM tadi yang dilaporkan ke saya yang sangat penting," jelasnya.Selain itu, dia memastikan desa-desa yang terisolasi akan segera dijangkau. Prabowo menyebut pemerintah telah mengerahkan sejumlah pesawat Hercules dan helikopter untuk mempercepat pengiriman bantuan serta penanganan bencana di wilayah Sumatra."Insya Allah kita dengan dengan kerja sama erat teamwork yang baik, kita bisa segera menghadapi musibah ini, segara memberi solusi-solusi kepada kesulitan sekarang ini," ujar Prabowo.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 12:13