Dari Angka ke Kenangan Natal, Mahasiswa Ubaya Mengubah Persamaan Matematika Jadi Potret Keluarga

2026-01-14 22:51:52
Dari Angka ke Kenangan Natal, Mahasiswa Ubaya Mengubah Persamaan Matematika Jadi Potret Keluarga
SURABAYA, – Hari Natal 2025 menjadi momen berbeda bagi Cedric Gratia Tjia.Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) ini memilih merayakan Natal bukan dengan membuat karya unik. Bukan dengan kanvas atau cat warna, melainkan dengan ratusan persamaan matematika.Cedric memamerkan ilustrasi Natal yang sepenuhnya dibangun dari kurva dan garis hasil lebih dari 870 perhitungan persamaan linear di Perpustakaan Lantai 5 Kampus Ubaya Tenggilis, Senin siang.Selama sekitar 84 jam, ia menata angka demi angka hingga membentuk satu ilustrasi utuh berupa potret keluarga yang sarat makna.Baca juga: Kisah Elang Dapat Kado Natal dari Gibran: Ada Mainan, Tas, Senang...Karya tersebut lahir dari kecintaan Cedric pada matematika dan perkenalannya dengan Desmos, platform berbasis web untuk memvisualisasikan konsep matematika.Namun di balik pendekatan teknis itu, tersimpan kisah personal yang mendalam.Ia memilih sketsa foto Natal keluarganya sebagai dasar ilustrasi yang kemudian ditranslasi ke bentuk digital sebelum diolah secara matematis.“Foto ini diambil pada momen Natal tahun 2021 dan sangat bermakna bagi saya, terutama sebagai bentuk pengingat kebersamaan dengan Papa saya yang baru berpulang pada bulan November lalu,” ujar Cedric Gratia Tjia kepada Kompas.com.Baca juga: Melihat Suka Cita Perayaan Natal di Palestina Setelah Dua Tahun Absen...Bagi Cedric, karya ini bukan sekadar eksperimen visual, melainkan ruang untuk mengenang, merawat kehilangan, sekaligus merayakan kehangatan keluarga.Dokumentasi Universitas Surabaya Sebuah ilustrasi Hari Natal 2025 karya Cedric Gratia Tjia yang sepenuhnya dibangun dari kurva dan garis hasil lebih dari 870 perhitungan persamaan linear di Perpustakaan Lantai 5 Kampus Universitas Surabaya, Jawa Timur, Senin lalu.Sketsa digital tersebut kemudian diimpor ke Desmos dalam format PNG sebagai acuan. Dari sana, Cedric menentukan titik-titik patokan, mulai dari ujung, puncak, hingga lengkungan garis yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam berbagai persamaan matematika.Ia menggunakan beragam rumus, seperti persamaan linear, kuadrat, eksponen, trigonometri, lingkaran, elips, hingga parabola. Untuk memudahkan pengecekan, setiap garis dibedakan dengan warna kontras seperti hijau, merah, biru, dan ungu.“Secara sekilas, ilustrasi ini mungkin terlihat sama dengan ilustrasi lainnya. Namun, prosesnya jauh lebih rumit karena sistem copy dan paste tidak berlaku. Semua garis harus diformulasikan satu-satu secara terpisah dan membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi,” tuturnya.Baca juga: Kisah Elang Dapat Kado Natal dari Gibran: Ada Mainan, Tas, Senang...Kesulitan terbesar muncul saat ia harus menjaga keharmonisan antar garis. Skala, posisi, dan ketebalan harus disusun dengan presisi agar membentuk visual yang seimbang.Tantangan itu semakin berat karena ilustrasi tersebut menampilkan enam karakter manusia. Kesalahan kecil dalam perhitungan dapat mengubah ekspresi dan proporsi tubuh.“Harus dikerjakan dengan presisi. Kalau sembarangan, hasilnya bisa terlihat aneh. Untuk mengerjakan satu karakter saja, saya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam,” ujar lulusan SMA Kristen Petra 2 ini.Meski penuh tantangan teknis, Cedric mengaku menikmati seluruh proses pengerjaan proyek Natal tersebut. Ia melihat ilustrasi berbasis persamaan matematika sebagai ruang eksplorasi yang masih sangat luas.Ke depan, ia ingin memperdalam teknik ini agar mampu menghasilkan karya yang lebih realistis, detail, dan berwarna, sekaligus membuka peluang pemanfaatan di dunia profesional.“Saya berharap kemampuan ini bisa menjadi alternatif pekerjaan atau peluang sampingan, seperti proyek desain, konten edukasi, atau komisi karya seni matematika,” pungkas Cedric Gratia Tjia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-14 21:53