JAKARTA, - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penguatan ekonomi Indonesia menjelang akhir tahun banyak ditopang oleh mesin permintaan domestik.Menurut Airlngga indikator inflasi yang tetap terjaga, PMI manufaktur yang terus ekspansif, serta surplus perdagangan yang berlanjut hingga 66 bulan, mejadi alasan bahwa ekonomi nasional bergerak stabil meski tekanan global belum mereda."Inflasi November 2025 tercatat 2,72 persen (yoy), masih berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Penurunan tekanan harga pangan terutama Volatile Food yang melandai ke 5,48 persen (yoy) dari 6,59 persen membantu menjaga stabilitas harga," kata Menko Airlangga dalam keterangannya pada Selasa .Baca juga: Airlangga Sebut Uni Eropa Berpotensi Tunda Regulasi Deforestasi hingga 2027Lebih lanjut jika dilihat dari sisi inflasi inti yang di 2,36 persen juga menunjukkan daya beli rumah tangga tetap terjaga.Secara bulanan, pergerakan harga masih dipengaruhi kenaikan emas perhiasan yang mencatat inflasi 3,99 persen (mtm) dan tarif angkutan udara yang naik 6,02 persen (mtm).Tren kenaikan tarif pesawat ini memang lazim pada periode November dalam lima tahun terakhir. Pemerintah berupaya menahan tekanan tersebut lewat program diskon tarif transportasi yang akan berjalan Desember 2025.“Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong mobilitas,” ujarnyaDi sisi pangan, harga sejumlah komoditas sempat naik karena curah hujan tinggi, terutama bawang merah dan beberapa sayuran. Namun penurunan tampak pada daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras.Komoditas beras mencatat deflasi bulanan terdalam sejak Juni 2024, yakni 0,59 persen. Deflasi ini merefleksikan stabilisasi pasokan melalui bantuan pangan dan program intervensi harga seperti Gerakan Pasar Murah dan SPHP, terutama jelang Natal dan Tahun Baru.Baca juga: Airlangga Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 Bisa Tembus 5,4 PersenSementara itu, perdagangan luar negeri kembali memberikan bantalan kuat. Neraca perdagangan Oktober 2025 mencatat surplus 2,39 miliar dollar AS, dipicu ekspor 24,24 miliar dollar AS yang lebih tinggi dibanding impor 21,84 miliar dollar AS.Surplus dengan Amerika Serikat tetap terjaga dan mencapai 1,7 miliar dollar AS untuk nonmigas, di tengah proses negosiasi tarif resiprokal yang masih berlangsung.Dari sisi produksi, sektor manufaktur terus memperlihatkan pemulihan yang konsisten. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik signifikan menjadi 53,3 pada November 2025 dari 51,2 pada bulan sebelumnya level tertinggi sejak Februari 2025.Ekspansi yang berlangsung empat bulan berturut-turut ini didorong lonjakan permintaan domestik menjelang akhir tahun, yang mendorong kenaikan produksi, pembelian bahan baku, hingga penyerapan tenaga kerja. Penumpukan pekerjaan yang muncul kembali juga menjadi tanda meningkatnya beban produksi industri.“Stimulus dan berbagai insentif di tengah permintaan domestik yang meningkat secara musiman menjadi pendorong tambahan,” tandasnya.
(prf/ega)
Airlangga Klaim PMI Meroket, Jadi Sinyal Kuat Ekonomi RI Makin Stabil
2026-01-12 15:47:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 16:07
| 2026-01-12 16:05
| 2026-01-12 16:01
| 2026-01-12 15:02
| 2026-01-12 14:36










































