LUWU, – Langkah kecil itu dimulai dari keputusan besar: menerima penempatan sebagai guru honorer P3K di daerah terpencil.Bagi Asmiati Abdullah (51), Guru Pendidikan Agama Islam di SDN 666 Pangiu, Kecamatan Bastem Utara (Bastura), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan harian menembus sunyi, jurang, dan jalan berlumpur demi memberikan ilmu kepada 52 siswa di lereng pegunungan.Asmiati bukan satu-satunya. Ia bersama tiga rekannya—Jauhari, Irma Devyanti, dan Nur Fadila—memilih bertahan di wilayah terpencil Bastura sejak diangkat sebagai honorer P3K pada tahun 2022.Kebahagiaan sempat menyelimuti Asmiati ketika dinyatakan lulus P3K. Namun rasa itu berubah ketika melihat medan menuju sekolah barunya.“Saya kira Walenrang sekolahnya, tapi waktu saya cari ternyata di Bastura,” kata Asmiati, Kamis .Ia mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Bastem Utara sebelumnya.Sebelum hari pertama dinas, ia meninjau lokasi bersama keluarga. Namun mobil yang mereka gunakan langsung diminta berhenti oleh warga karena tidak memungkinkan melewati jalur ekstrem.“Masyarakat bilang mobil tidak bisa lewat. Kami disuruh berhenti,” kenangnya.Baca juga: Delapan Bulan Jelang Pensiun, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Abdul Muis Diberhentikan Setelah Putusan MATak ingin pulang tanpa melihat sekolahnya, ia menyewa motor dan melanjutkan perjalanan bersama adiknya. Jalan sempit dengan jurang di sisi membuat ia tak kuasa menahan tangis.“Pertama kali masuk di lokasi itu, saya menangis. Seumur hidup baru lihat medan seperti itu,” ucapnya.Kini, ia mulai terbiasa. “Awalnya mengerikan, tapi lama-lama alhamdulillah sudah tidak takut lagi,” ujarnya.Untuk mengajar, Asmiati menempuh rute Cimpu–Palopo–Bastura menggunakan jasa ojek. Ongkosnya cukup besar: Rp 120.000 sekali jalan dari Palopo, dan Rp 200.000 jika langsung dari Cimpu. Pulang-pergi bisa mencapai Rp 400.000 per hari.“Karena jalan tidak bagus, kita harus mengerti juga dengan tukang ojek. Biasa saya tambah seikhlasnya,” ungkapnya.Saat musim hujan, kondisi makin berbahaya. Jalan menjadi kubangan lumpur. Ia bahkan pernah terjatuh hingga tak dapat berjalan normal selama seminggu.“Ban motor lari ke kiri, kami jatuh ke kanan. Motor tergelincir, mau maju mundur tidak bisa. Kami terjun ke bawah, tapi alhamdulillah selamat,” jelasnya.
(prf/ega)
Kisah Asmiati Mengabdi Jadi Guru di Pedalaman, Pernah Jatuh ke Jurang hingga Tinggal di Kelas dengan Sekat Gorden
2026-01-12 22:59:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 23:12
| 2026-01-12 23:01
| 2026-01-12 22:08
| 2026-01-12 21:35
| 2026-01-12 20:36










































