TBS Energi Utama (TOBA) Tak Ikut Proyek Listrik dari Sampah dan Patriot Bonds Rp 50 T

2026-02-03 00:46:28
TBS Energi Utama (TOBA) Tak Ikut Proyek Listrik dari Sampah dan Patriot Bonds Rp 50 T
JAKARTA, - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memastikan tidak terlibat dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang tengah disiapkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Perseroan juga tidak ambil bagian dalam penerbitan Patriot Bonds senilai Rp 50 triliun yang diluncurkan untuk membiayai proyek-proyek tersebut.Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina, mengatakan proyek PLTSa yang dikelola Danantara belum menjadi fokus utama perusahaan untuk saat ini. TOBA masih memprioritaskan proyek energi yang sudah berjalan dan sedang dikembangkan di wilayah regional.“Untuk proyek Danantara Waste to Energy (WtE) itu belum menjadi prioritas kami, karena kami fokus terlebih dahulu pada proyek-proyek yang sudah ada di depan yang sudah kita approach dan di regional,” ujar Juli saat konferensi pers di Jakarta, Selasa .Baca juga: TBS Energy Utama (TOBA) Perluas Bisnis Pengelolaan Limbah Usai Akuisisi Sembcorp EnvironmentDanantara sendiri berencana membuka lelang proyek PLTSa pada awal November 2025. Proyek ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 yang diteken Presiden Prabowo Subianto pada 10 Oktober lalu. Beleid itu menyempurnakan Perpres Nomor 35 Tahun 2018, yang menjadi dasar pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik ramah lingkungan.Selain menegaskan posisi TOBA terhadap proyek Danantara, Juli juga menepis kabar bahwa perusahaannya terlibat dalam penerbitan Patriot Bonds.“Untuk Patriot Bonds, kami juga tidak ikut. Kalau pun ikut, pasti sudah kami sampaikan dalam keterbukaan informasi. Tidak mungkin kami menutupi hal itu,” paparnya.Baca juga: HM Sampoerna (HMSP) Borong Patriot Bonds Danantara Rp 500 MiliarAdapun, Patriot Bonds senilai Rp 50 triliun yang diterbitkan Danantara sebelumnya diumumkan sebagai skema pembiayaan bagi lebih dari 30 proyek PSEL di berbagai wilayah Indonesia. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada TPA konvensional dan sekaligus memperkuat bauran energi terbarukan di Tanah Air.Senada, Head of Corporate Strategy & Investor Relations TBS Energi Utama, Nafi Achmad Sentausa, menyebut pihaknya sudah lama menaruh perhatian pada bisnis pengelolaan sampah. Sejak Perpres 35/2018 diterbitkan, perusahaan mulai mengamati peluang di sektor ini.Namun eksekusi dan berbagai faktor lainnya belum memungkinkan, langkah konkret baru diambil pada 2023 ketika TBS mulai masuk ke pasar Singapura.“Jadi TBS ini kan kita memang sudah mulai ngeliatin bisnis pengelolaan sampah ini sebenarnya dari tahun 2018. Jadi waktu Perpres yang pertama keluar, 35 itu memang kita sudah mulai ngeliatin bisnis-bisnis pengelolaan sampah. Namun ya karena eksekusinya dan banyak lain hal, akhirnya kita di tahun 2023 itu mulai masuk di Singapura,” ucap Nafi.Baca juga: Ombudsman Soroti PLTSa Bantar Gebang, Manajemen: Ini Hanya Pilot Project


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 12:35