Ringkasan Berita: - Penggunaan headphone Bluetooth semakin umum dalam keseharian, mulai dari bekerja, belajar, hingga menemani aktivitas santai. Namun di balik kepraktisannya, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat.Apakah paparan gelombang dari perangkat nirkabel ini aman bagi otak jika digunakan dalam jangka panjang? Pertanyaan tersebut kerap beredar di media sosial dan forum daring, sering kali dibarengi klaim soal radiasi dan dampak kesehatan yang belum tentu benar.Untuk menjawabnya, penting melihat persoalan ini dari sudut pandang ilmiah, bukan sekadar asumsi. Berbagai penelitian telah mengkaji tingkat radiasi Bluetooth, cara kerjanya, serta perbandingannya dengan perangkat elektronik lain yang digunakan sehari-hari.Dengan memahami fakta dan data yang ada, kita bisa menilai secara lebih jernih apakah headphone Bluetooth benar-benar berisiko bagi otak, atau justru kekhawatiran tersebut lebih dekat ke mitos daripada kenyataan. Selengkapnya KompasTekno menguraikan penjelasannya.Baca juga: 10 Fitur Headphone JBL Tour One M3 Smart Tx, Cocok untuk AudiophileDilansir dari Health.com, kekhawatiran soal bahaya headphone Bluetooth terhadap otak umumnya berkaitan dengan paparan radiasi.Perlu dipahami, perangkat Bluetooth memang memancarkan radiasi, tetapi jenisnya adalah radiasi non-ionisasi. Artinya, radiasi ini tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA atau memicu kanker seperti radiasi ionisasi pada sinar-X atau limbah radioaktif.National Cancer Institute juga menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan hubungan pasti antara penggunaan perangkat nirkabel dan kanker atau penyakit serius lainnya, bahkan Bluetooth dinilai sebagai opsi yang lebih aman dibanding menempelkan ponsel langsung ke telinga.Paparan radiasi dari headphone Bluetooth lebih rendah dibandingkan ponsel. Menurut Ken Foster, profesor bioengineering dari University of Pennsylvania, emisi radiasi Bluetooth tergolong sangat kecil, meskipun digunakan dalam waktu lama.Pemerintah Amerika Serikat juga telah menetapkan standar keamanan radiasi untuk perangkat elektronik, dan emisi Bluetooth berada jauh di bawah ambang batas yang dinilai aman bagi tubuh manusia.Hingga saat ini, riset ilmiah belum menemukan bukti kuat bahwa radiasi frekuensi radio (RF) dari Bluetooth berdampak buruk pada otak atau meningkatkan risiko kanker. Bluetooth termasuk radiasi non-ionisasi yang tidak bersifat karsinogenik.Meski begitu, penelitian jangka panjang tetap diperlukan untuk memantau potensi efek kesehatan dari penggunaan perangkat nirkabel secara masif.Dalam berbagai kajian kesehatan, perhatian utama terkait penggunaan headphone, baik kabel maupun Bluetooth lebih sering diarahkan pada kesehatan pendengaran.Paparan suara dengan volume tinggi dalam durasi lama berpotensi memicu gangguan pendengaran yang bersifat permanen.Oleh karena itu, penggunaan headphone disarankan dilakukan secara moderat, dengan membatasi waktu mendengarkan, menjaga volume pada tingkat wajar, serta memberi jeda secara berkala agar telinga tidak terus-menerus terpapar suara.
(prf/ega)
Apakah Headphone Bluetooth Berbahaya bagi Otak? Ini Fakta Ilmiahnya
2026-01-11 21:55:48
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:36
| 2026-01-11 21:44
| 2026-01-11 21:40
| 2026-01-11 20:30










































