Trauma Banjir 2020, Warga Berharap Sungai Kedungringis Dinormalisasi

2026-01-11 03:10:11
Trauma Banjir 2020, Warga Berharap Sungai Kedungringis Dinormalisasi
UNGARAN, - Trauma akibat banjir besar yang melanda pada tahun 2020 masih dirasakan oleh warga Desa Candirejo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.Mereka mendesak agar Sungai Kedungringis yang mengalir di wilayah tersebut segera dinormalisasi untuk mencegah terulangnya bencana serupa.Kepala Desa Candirejo, Tri Gunawan Setiadi, mengungkapkan bahwa kondisi sedimentasi di Sungai Kedungringis saat ini cukup parah.Baca juga: Tim Dokter Unair Bantu 3 Operasi Darurat Korban Banjir di RSUD Cut Meutia Aceh"Saat hujan deras, permukaan air sungai sudah nyaris rata dengan ketinggian tanggul. Selain permukiman, di sisi kanan dan kiri tanggul juga terdapat hamparan persawahan yang luas," ujarnya pada Senin .Wawan, sapaan akrab Tri Gunawan Setiadi, menjelaskan bahwa warga Dusun Kumpulrejo dan Dusun Kintelan Lor merupakan yang paling terdampak."Mereka masih trauma dengan peristiwa banjir bandang tahun 2020 lalu, saat tempat tinggalnya diterjang air luapan sungai," tambahnya.Dia pun meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana untuk segera melakukan penanganan.Baca juga: Tim Dokter Unair Bantu 3 Operasi Darurat Korban Banjir di RSUD Cut Meutia Aceh"Setiap hujan deras, air Sungai Kedungringis sudah mengkhawatirkan dan warga mulai waspada," papar Wawan.Menurutnya, karakteristik Sungai Kedungringis di Kecamatan Tuntang tidak jauh berbeda dengan Sungai Panjang yang saat ini sedang dinormalisasi di Kecamatan Ambarawa."Alirannya melintas di beberapa wilayah permukiman dan bermuara di Danau Rawapening. Sungai Kedungringis berhulu di wilayah Kota Salatiga," jelasnya.Berdasarkan peta rawan bencana Desa Candirejo, Dusun Kintelan Lor dan Dusun Kumpulrejo termasuk dalam kategori rawan bencana."Karena dusun-dusun tersebut dilalui oleh aliran Sungai Kedungringis, mereka menjadi skala prioritas dalam upaya kewaspadaan bencana luapan sungai," ungkap Wawan.Baca juga: Cerita Cemasnya Yuni, Mahasiswa Rantau di Magelang, Sempat Kehilangan Kontak dengan Keluarga Saat Banjir Landa Sumut"Saat banjir 2020, yang paling parah itu di Dusun Kumpulrejo karena berdekatan langsung dengan Rawa Pening. Walaupun tidak ada korban jiwa, kerugian materiilnya cukup banyak," tuturnya.Wawan menambahkan bahwa selain faktor cuaca, penyebab lain terjadinya banjir adalah sedimentasi sungai yang mengkhawatirkan."Sehingga sungai tidak optimal dalam menampung debit air. Lonjakan debit air yang cukup signifikan membuat kemampuan sungai tidak mampu lagi menampung air, akhirnya meluap ke permukiman Dusun Kumpulrejo," pungkasnya.


(prf/ega)