Benarkah Sawit Bukan Tanaman Asli Indonesia? Ini Penjelasan Ahli UGM

2026-01-14 02:03:53
Benarkah Sawit Bukan Tanaman Asli Indonesia? Ini Penjelasan Ahli UGM
- Sebuah unggahan di media sosial X mengatakan bahwa tanaman sawit sejatinya bukan merupakan tanaman Indonesia.Menurut unggahan tersebut, karena bukan merupakan tumbuhan asli Indonesia, maka dapat berdampak pada ekosistem."Sawit bukan tumbuhan asli indonesia. karena ekosistem di sini ga berevolusi bersama sawit. kehadirannya, terutama dalam skala besar dan monokultur, merusak tanah, menggeser tumbuhan lokal, dan menghilangkan ruang hidup satwa asli," tulis akun @jel

** pada Rabu . Pohon sawit saat ini menjadi perhatian sebab keberadaan kebun monokultur sawit di Aceh dan Sumatera diduga picu banjir dan tanah longsor.Lantas, benarkah tanaman sawit bukan asli Indonesia?Baca juga: Bagaimana Awal Mula Sumatera Jadi Pusat Produksi Sawit Dunia?Dosen Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo membenarkan bahwa Sawit bukan berasal dari Indonesia. "Sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika Barat, khususnya di wilayah Guinea, Nigeria, dan Kamerun," jelas Hatma ketika dihubungi Kompas.com pada Kamis . Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sawit masuk ke Indonesia sekitar tahun 1800-an, dan habitat aslinya merupakan hutan hujan tropis."Di habitat aslinya, sawit sering berasosiasi dengan vegetasi lain, mestinya punya keragaman genetik penting untuk perbaikan varietas," jelas Hatma.Baca juga: 10 Provinsi dengan Lahan dan Produksi Kelapa Sawit Terbesar di Indonesia, Mana SajaDi habitat asli sawit yakni Afrika, keberadaan sawit lebih beragam, yakni dapat tumbuh liar di hutan, rawa, tepi sungai, tepi hutan, area terbuka, atau bekas ladang berpindah."Bukan dengan monokultur seperti di perkebunan dibudidayakan secara intensif," lanjutnya. Hal ini menunjukkan cara sawit tumbuh di habitat aslinya memberikan sinyal bahwa sawit cocok ditanam bersama tanaman lain."Kondisi di habitat aslinya adalah tanda baik bila diperkayakan dalam sistem campur dengan jenis pohon lain, untuk membentuk tree-tree agroforestry system, tapi belum laku dilakukan di kebun sawit besar, kecuali di beberapa kebun sawit rakyat seperti dalam program jangka benah," jelas Hatma.Baca juga: Benarkah Sawit Tidak Bisa Gantikan Hutan? Ini Penjelasan Ahli UGM Hatma mengatakan, setiap ciptaan Tuhan, khususnya pohon sawit memiliki peran dan manfaat untuk manusia dan alam. Meski begitu, penting untuk mengatur letak sawit tersebut sebaiknya ditanam."Tentunya pada lokasi yang sesuai dengan kebutuhan sawit untuk tumbuh dan mengendalikan dampak ekologis dan lingkungan jika ditanam dalam area yang luas," kata Hatma. Lebih lanjut, Hatma mengungkapkan bahwa dalam kondisi alam yang seimbang, tidak ada suatu tanaman yang lebih dominan."Jadi kalo kemudian dari kondisi alami (heterogen) kemudian diganti dengan monokultur oleh jenis apapun, misal sawit, karet, tanaman HTI, pasti akan merubah keseimbangan ekosistem dan berdampak," kata Hatma.Dampak tersebut antara lain menurunkan kualitas lingkungan, seperti kualitas tanah, habitat satwa yang rusak atau hilang, keanekaragaman hayati hilang, hingga peran alami ekosistem untuk pengendalian daur air yang jadi terganggu atau rusak.Baca juga: [POPULER TREN] Benarkah Sawit Tidak Bisa Gantikan Hutan? | Geli-geli Lucu


(prf/ega)