Adik Kandung Jadi Kepala Bapenda Banten, Wagub: Kalau Tak Benar, Saya Copot, Jangan Maluin Abang...

2026-01-14 06:22:42
Adik Kandung Jadi Kepala Bapenda Banten, Wagub: Kalau Tak Benar, Saya Copot, Jangan Maluin Abang...
SERANG, - Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, mengaku akan mencopot adik kandungnya, Raden Berly Rizki Natakusumah, jika tidak becus bekerja.Diketahui, Raden Berly telah dilantik menjadi Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Banten.Sebelumnya, Berly menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Banten."Kalau dia tidak bekerja dengan benar, saya akan mencopotnya. Saya ingin dia bekerja maksimal, jangan sampai mempermalukan abangnya," kata Dimyati usai pelantikan di Gedung Negara Banten, Serang, Senin .Baca juga: Gubernur Andra Soni Lantik 23 Pejabat Pemprov Banten, Adik Wagub Jadi Kepala BapendaDia memastikan tidak ada lagi keluarganya yang memiliki jabatan di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten.Namun, di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota di Banten, ada juga yang ingin pindah.Akan tetapi, ia tidak diizinkan untuk bermigrasi ke Pemprov Banten."Yang lain tetap di kabupaten/kota. Bahkan, ada yang ingin pindah ke provinsi, tetapi tidak saya izinkan," ujar dia.Menurutnya, ia lebih senang jika tidak ada keluarganya yang menjadi pejabat di Pemprov Banten karena akan menambah beban moral bagi mantan Bupati Pandeglang tersebut."Tapi, kariernya sudah mentok di eselon III lebih dari lima sampai 10 tahun dan dia sudah lama mengabdi. Sekarang posisinya sudah ideal, mudah-mudahan bisa bekerja maksimal dan bergerak cepat," tutur dia.Baca juga: Polisi Polda Banten Jadi Tersangka Penipuan Rekrutmen Polri, Kini BuronDiketahui, Raden Berly Rizki Natakusumah menjadi salah satu dari 23 pejabat yang dilantik oleh Gubernur Banten, Andra Soni, hari ini.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 06:13