Alasan Jarak Aman Saat Berkendara Pakai Satuan Waktu

2026-02-03 02:03:54
Alasan Jarak Aman Saat Berkendara Pakai Satuan Waktu
SOLO, - Pengukuran jarak pada umumnya menggunakan satuan panjang seperti meter, atau kilometer. Namun, dalam defensive driving, khususnya menentukan jarak aman menggunakan satuan waktu.Sebagai contoh jarak aman kondisi normal 3 detik, sedangkan saat hujan 5 detik. Rupanya, metode ini lebih mudah dilakukan oleh seseorang saat mengemudi, dan hasilnya lebih akurat.Marcell Kurniawan, Training Director Real Driving Centre (RDC) mengatakan dalam defensive driving untuk menentukan jarak aman, pakainya satuan detik.Baca juga: 3 Cara Mudah Hindari Tabrakan Beruntun di Jalan Tol“Yang dihitung jeda waktu dalam hitungan detik, karena kita bisa menghitung jarak saat di dalam kendaraan dalam kecepatan tertentu, pengemudi bisa menghitung 1 detik kendaraan bergerak sejauh berapa meter,” ucap Marcell kepada , Selasa .Misalnya, dalam kecepatan 100 kilometer per jam, kurang lebih per detik mobil berjalan sejauh 28 meter. Sehingga bila jeda kita dengan kendaraan di depan 4 detik, tinggal dikalikan 28 x 4 yakni 112 meter, dan seterusnya.Cara menghitungnya, pilih patokan tetap di jalan seperti tiang, marka, atau pohon. Saat kendaraan di depan melewati patokan, mulai hitung waktunya berapa detik sampai kendaraan kita melewati patokan tersebut.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Daftar Jalan Tol yang Diresmikan di Tahun 2025Tangkapan layar Roda mobil terlepas di jalan tol MBZ Km 37“Satuan detik lebih mudah dan akurat karena pengemudi bisa menghitungnya secara manual, sedangkan pakai satuan meter hanya kira-kira, sebatas pandangan mata, tidak pasti,” ucap Marcell.Perlu diketahui juga, satuan jarak aman menggunakan detik berkaitan dengan waktu reaksi pengemudi. Bahwa, waktu reaksi manusia dalam mengemudi terbatas. Semakin pendek, semakin sulit untuk melakukan antisipasi, ketika terjadi manuver mendadak dari kendaraan di depan.Jadi, penggunaan satuan detik dalam menentukan jarak aman dalam defensive driving, karena lebih relevan dan akurat dilakukan oleh pengemudi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 01:03