Menperin: Investasi di Industri Agro Tembus Rp 85 Triliun, Serap 9,8 Juta Tenaga Kerja

2026-01-15 05:41:50
Menperin: Investasi di Industri Agro Tembus  Rp 85 Triliun, Serap 9,8 Juta Tenaga Kerja
JAKARTA, - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat realisasi investasi industri agro selama semester I-2025 mencapai Rp 85,05 triliun.Sektor ini juga menyerap 9,8 juta tenaga kerja atau 50,26 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan nonmigas.Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan data tersebut memperlihatkan bahwa industri agro bukan hanya menjadi motor pertumbuhan, tetapi juga pilar pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja produktif.Secara agregat, industri agro menyumbang 52,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada semester I-2025.Baca juga: Menperin Putar Otak Benahi Industri, Janji Tak Bergantung Uang NegaraBahkan, berkontribusi 8,96 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan 4,99 persen.“Pada semester I tahun 2025, sektor industri agro mencatatkan kontribusi sebesar 52,07 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, kemudian memberikan andil hingga 8,96 persen terhadap PDB nasional, dan tumbuh positif mencapai 4,99 persen,” ujar Agus saat pameran industri agro yang digelar di gedung Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu .Dari sisi perdagangan luar negeri, sektor ini menunjukkan kinerja yang gemilang dengan nilai ekspor menembus 37,38 miliar dollar AS dan surplus neraca dagang sebesar 26,96 miliar dollar AS.“Jika dibandingkan dengan neraca perdagangan industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang sebesar 16,84 miliar dollar AS, kinerja sektor industri agro memberikan kontribusi signifikan terhadap surplus perdagangan nasional,” paparnya.Menurutnya, capaian tersebut sejalan dengan sasaran Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menekankan percepatan industrialisasi melalui peningkatan nilai tambah di dalam negeri.“Untuk mewujudkan sasaran tersebut, Kementerian Perindustrian tengah mengimplementasikan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai kerangka kerja komprehensif penguatan sistem industri nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” beber Menperin.Lebih jauh, lewat Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), Kemenperin masih memacu integrasi rantai pasok industri nasional (backward dan forward linkage) dengan dukungan regulasi cerdas, jaminan ketersediaan bahan baku, peningkatan efisiensi proses produksi, serta penguatan inovasi dan akses pasar.“Dalam konteks sektor agro, pendekatan industrialisasi diarahkan untuk memperkuat hilirisasi berbasis sumber daya alam. Bahan baku seperti biji kakao, sagu, rumput laut, dan kopra didorong untuk diolah menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” kata Agus.Selain itu, Kemenperin mendorong terbentuknya ekosistem industri agro yang inklusif dengan memperkuat kemitraan antara pelaku industri, koperasi, dan petani untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku.Penerapan prinsip industri hijau dan berkelanjutan menjadi penting dalam strategi tersebut, antara lain efisiensi energi dan penerapan sertifikasi keberlanjutan seperti Rainforest Alliance, UTZ, dan Organic Certification.Kemenperin juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi mutakhir dan integrasi sistem industri 4.0, termasuk pengambilan keputusan berbasis data di seluruh rantai nilai agroindustri.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-01-15 04:51