Indonesia Peringkat 1 Sumber Serangan Siber

2026-01-17 02:53:50
Indonesia Peringkat 1 Sumber Serangan Siber
- Indonesia menempati posisi pertama sebagai negara sumber serangan siber terbesar di dunia pada 2025.Temuan ini diungkap dalam Laporan Ancaman DDoS Q3 2025 yang dirilis Cloudflare, perusahaan penyedia layanan distribusi konten dan perlindungan dari serangan Distributed Denial of Service (DDoS).Laporan tersebut disusun berdasarkan data jaringan Cloudflare selama periode Juli–September 2025.“Indonesia merupakan sumber serangan DDoS terbesar di dunia dan telah berada di posisi pertama selama setahun penuh sejak kuartal ketiga 2024,” tulis Cloudflare dalam laporan resminya.Lantas, negara mana saja yang menjadi sumber serangan siber terbesar di dunia?Baca juga: Tips Keamanan Siber: Melindungi Data PribadiDilansir dari laman resmi Cloudflare , tujuh dari sepuluh negara sumber teratas serangan siber di dunia berada di kawasan Asia, dengan Indonesia memimpin di posisi pertama.Indonesia merupakan sumber serangan DDoS terbesar dan telah menduduki peringkat pertama di dunia selama setahun penuh, sejak kuartal ketiga 2024.Bahkan sebelumnya, Indonesia selalu berada di daftar teratas sumber serangan.Pada kuartal kedua 2024, Indonesia menjadi sumber terbesar kedua, setelah naik dari peringkat yang lebih rendah pada kuartal dan tahun-tahun sebelumnya.Cloudflare mencatat, dalam lima tahun terakhir (sejak kuartal III-2021), persentase permintaan HTTP DDoS yang berasal dari Indonesia dilaporkan meningkat drastis hingga 31.900 persen.Selain Indonesia, negara-negara Asia lain seperti Thailand, Vietnam, Singapura, Bangladesh, dan India juga masuk dalam daftar sumber serangan terbesar pada triwulan III-2025.Berikut 10 negara sumber serangan DDoS terbesar di dunia kuartal III-2025 menurut Cloudflare:Baca juga: Ramai Ajakan Berhenti Pakai AI karena Sebabkan Pemanasan Global, Ini Penjelasan Pakar SiberChina, Turkiye, dan Jerman menjadi negara yang paling sering menjadi target serangan DDoS pada periode tersebut.Cloudflare mencatat, sistemnya telah mendeteksi sekitar 8,3 juta serangan DDoS pada triwulan III-2025. Jumlah ini meningkat 15 persen dari kuartal sebelumnya dan 40 persen dibanding kuartal III-2024.Serangan DDos didominasi oleh botnet bernama Aisuru yang menginfeksi 1-4 juta host di seluruh dunia. Host di sini mencakup berbagai perangkat atau sistem yang terhubung ke internet, seperti komputer, server, router dll.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 01:21