Air Surut, Luka Tinggal: Mendengar Suara Sunyi Sumatera

2026-01-12 03:06:51
Air Surut, Luka Tinggal: Mendengar Suara Sunyi Sumatera
Setelah air surut dan sorotan media bergeser, siapa yang menemani mereka yang masih bertahan di tengah lelah, kehilangan, dan kebingungan memulai kembali?Ada satu fase bencana yang sering luput dari perhatian. Bukan saat air datang menerjang, bukan pula ketika evakuasi dilakukan. Fase itu hadir setelah semuanya terasa sunyi.Kamera telah pulang, notifikasi berita berhenti berdatangan, dan para penyintas kembali duduk di sisa-sisa rumah mereka—dengan satu pertanyaan besar di kepala: harus mulai dari mana?Di sejumlah wilayah Sumatera, fase itu sedang berlangsung. Banyak yang selamat, benar. Namun selamat tidak selalu berarti baik-baik saja.Tubuh mereka lelah, sebagian jatuh sakit, sebagian lain belum mendapatkan asupan yang layak. Tidur tak lagi nyenyak. Di dalam kepala, ada rasa takut yang belum sempat diberi nama.Bencana memang tidak selalu mengambil nyawa. Kadang ia memilih tinggal lebih lama—diam-diam menetap di ingatan orang-orang yang mengalaminya.Ketika Tubuh dan Pikiran Sama-Sama LelahBayangkan kehilangan rumah, barang, bahkan orang tercinta dalam waktu yang nyaris bersamaan. Bayangkan harus tetap bertahan ketika tubuh masih menggigil, anak-anak menangis, dan masa depan terasa kabur.Dalam kondisi seperti itu, wajar bila seseorang tampak diam, linglung, atau mudah tersulut emosi.Itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah reaksi manusia.Dalam perspektif psikologi, kondisi ini muncul ketika sistem saraf terus berada dalam mode siaga.Tubuh belum pulih, tetapi pikiran dipaksa untuk kuat. Jika situasi ini berlangsung lama tanpa dukungan, luka tersebut bisa menetap.Trauma, kecemasan berlebihan, rasa bersalah karena selamat, hingga gangguan stres pascatrauma bukanlah hal yang mengada-ada. Ia adalah konsekuensi dari rasa aman yang runtuh.Sayangnya, luka semacam ini sering kali tidak terlihat dan karena itu mudah diabaikan.Hadir Lewat Pendekatan yang Lebih Manusiawi


(prf/ega)